Memasuki Musim Kemarau, Debit Air di 161 Jaringan Irigasi Menyusut

0 41

CIANJUR – Debit permukaan air di sejumlah jaringan irigasi di Kabupaten Cianjur dilaporkan mulai menyusut. Namun tingkat penyusutannya belum terlalu signifikan lantaran terkadang masih turun hujan meskipun intensitasnya rendah.

“Laporan penyusutan debit air di jaringan-jaringan irigasi sudah mulai kami terima. Setiap minggu rutin ada yang melaporkan,” kata Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Cianjur, Wiguno Prihantono, Rabu (18/6).

Daerah Irigasi yang dikelola Pemkab Cianjur terbagi ke dalam tujuh wilayah. Daerah Irigasi Balai Wilayah I Cianjur Kota terdapat 16 titik dan tiga di antaranya dikelola Pemprov Jabar. Balai Wilayah II Cibeber terdapat 19 titik dan dua di antaranya dikelola Pemprov Jabar.

Balai Wilayah III Ciranjang terdapat 1 titik, Balai Wilayah IV Cikalong terdapat 12 titik, Balai Wilayah V Sukanagara terdapat 4 titik, Balai Wilayah VI Pagelaran terdapat 8 titik, dan Balai Wilayah VII Cidaun terdapat 4 titik.

Wiguno mengaku mulai berkurangnya debit air di jaringan-jaringan irigasi mulai dibarengi dengan upaya pengaturan agar pasokan ke setiap lahan persawahan masih bisa dilakukan. “Pasti kami lakukan pengaturan. Misalnya per blok atau sistem gilir giring. Kami sesuaikan dengan volume debit air yang ada,” ujarnya.

Pola pengaturan air itu bekerja sama dengan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Mitra Cai serta dengan pemerintahan desa. Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Cianjur mengelola sekitar 161 irigasi teknis dan irigasi sederhana.

“Kebanyakan itu irigasi desa. Kalau irigasi teknis relatif sedikit,” jelas Wiguno.
Wiguno memperkirakan puncak kemarau tahun ini sekitar Juli atau Agustus. Kondisinya tak jauh berbeda dengan tahun lalu. “Kalau sekarang belum terlalu disebut kemarau. Prediksi sih Agustus merupakan puncak kemarau. Dari laporan di lapangan masih ada yang tanam,” tutur dia.

Dinas PUPR selalu bareng-bareng berkoordinasi dengan Dinas Pertanian, Pangan, Perkebunan, dan Holtikultura Kabupaten Cianjur memantau kondisi di lapangan. Koordinasi dinilai cukup penting karena untuk mengetahui kondisi lahan sawah yang mengalami puso, kekeringan, hingga lahan sawah yang tak bisa ditanami.

“Dari sekitar 161 jaringan irigasi yang kami kelola, debit airnya bisa mengaliri sekitar 37 ribu lebih hektare lahan sawah di seluruh Kabupaten Cianjur. Sejauh ini laporan dari Dinas Pertanian belum ada lahan sawah yang mengalami kekeringan dengan kategori berat,” ungkapnya.

Wiguno mengaku tak bisa berbuat banyak apalagi debit air sudah betul-betul turun drastis. Selama ini pihaknya hanya bisa memaksimalkan jaringan-jaringan irigasi yang masih terdapat volume airnya.
“Kalau terjadi penurunan air secara drastis, kita sudah tak bisa mengaturnya. Makanya, sekarang kita maksimalkan betul debit air yang masih ada,” pungkasnya.

Di sisi lain, Dinas Kelautan Perikanan dan Perternakan Kabupaten Cianjur lakukan penyuluhan pada peternak hewan dan pembudidaya ikan saat memasuki pergantian musim hujan ke kemarau.

Kasi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyrakat Vetenier Dislutnak, M Agung Rianto mengatan dalam mengantisipasi terjadinya wabah penyakit terhadap hewan ternak dan budidaya ikan, memasuki pergantian musim, pihaknya melakukan sosialisasi terkait hal tersebut.

“Saat pergantian musim seperti ini biasanya tidak bepengaruh besar terhadap hewan ternak, untuk penyakit ikan biasanya terjadi saat angit barat kandungan oksigen didalam air berkurang,” kata dia, belum lama ini.

Meski tidak ada pengaruhnya kata dia, petugas disetiap UPTD Puskeswan yang ada di Cianjur Utara, Tengah dan Selatan selalu waspada terhadap penyakit hewan yang bisa menyerang hewan sewaktu-waktu.

“Kita melakukan upaya sosialisasi kewaspadaan penyakit hewan, kepada para kelompok tani ternak, pembudidaya ikan, dan perorangan pemilik ternak melalui pelayanan kesehatan petugas dilapangan,” kata dia
Agung menjelaskan saat pergantian musim dari penghujan ke musim kemarau, tentu sangat berpengaruh terhadap pembudidaya ikan, namun para pembudidaya selalu menyesuaikan dengan ikan yang tahan dengan musim kemarau, dan melakukan penambahan mesin blower untuk meningkatkan kandungan oksigen di dalam air.

“Kalau pun ada penyakit yang menyerang ikan para pembudidaya selalu mempuasakan dulu budidayanya dan memindahkan ketempat perairan yang lebih aman,” ucap dia

Pihaknya menambahkan belum ada laporan dari warga mengenai adanya penyakit terhadap hewan ternak dan budidaya ikan diawal memasuki musim kemarau tahun ini.

“Saat ini tingkat pengetahuan warga mengenai penyakit terhadap hewan ternak sudah sangat tinggi, jadi mereka bisa mengantisipasi terjadi penyakit hewan saat pergantian musim seperti ini,” pungkasnya.(*/bay/red)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.