Mengajar Dengan Hati Menghasilkan Lulusan Berkualitas

CIANJUR – Mengajar dengan hati atau Teaching By Heart adalah mengajar penuh keakraban, keikhlasan, dan hati yang tulus dalam situasi pendidikan, akan menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Demikian diungkapkan Praktisi Pendidikan Cianjur Dadang Sukandi dalam sebuah kesempatan. Menurut Dadang yang jugu sebagai guru di SMPN 2 Cianjur itu, mengajar dengan hati turut mencerdaskan anak bangsa tanpa disertai dengan maksud-maksud tertentu, selain hanya sebagai pendidik dan pengajar.

Mengajar dengan hati, tidak memandang siapa yang belajar. Guru tidak membedakan siswa berdasarkan sosial ekonomi, kecerdasan, dan prestasi. Kewajiban guru hanyalah menjadi fasilitator, pembimbing, pemotivasi, pengarah, dan penilai untuk semua siswa.

“Kesadaran yang tinggi untuk mengajar dengan baik, tumbuh dari dalam diri sendiri. Ia sadar untuk berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman. Bahkan ia menyadari sepenuhnya bahwa siswa membutuhkan ilmu pengetahuan,” kata dia kepada Cianjur Ekspres.

Dadang mengatakan, kebutuhan ilmu pengetahuan tersebut harus diawali dengan kesadaran yang tinggi bahwa semua siswa mempunyai hak untuk mendapatkan pembelajaran. Mengajar dengan hati adalah mengajar tidak itung-itungan. Jika mengajar itung-itungan, maka yang dipikirkan adalah keuntungan dan kerugian duniawi.

“Ketika guru melaksanakan pembelajaran yang diawali dengan untung rugi, hasil yang akan dicapai adalah kebahagiaan atau kesedihan. Kebahagiaan akan diterima jika pembelajaran mencapai keuntungan. Begitu juga sebalikya, kesedihan akan diterima jika pembelajaran mengalami kerugian,” ungkapnya.

Kegiatan mengajar yang terus memperhatikan untung rugi, tentunya tidak memperhatikan siswa sebagai pembelajar. Guru tidak akan peduli terhadap aktivitas siswa selama belajar dan hasil yang dicapai. Selain itu, guru juga tidak akan mengarahkan siswa kepada konsep pembentukan karakter dan pengembangan nilai-nilai moral.

“Jadi guru yang demikian, akan cenderung memperhatikan sejumah rupiah yang akan didapatkan dari pelaksanaan pembelajaran. Mengajar dengan hati itu pada dasarnya membahagiakan. Letak kebahagiannya jika melaksanakan pembelajaran berawal dari hati nurani yang tulus dan ikhlas,” kata Dadang.

Dengan hati yang tulus dan ikhlas serta penuh rasa syukur kepada Tuhan, guru akan membimbing siswa ke arah yang lebih baik untuk memperoleh pengetahuan yang tinggi, disertai keterampilan yang mumpuni dan tentunya akhlak yang mulia.

“Sebetulnya, perasaan yang tulus dan ikhlas akan tercermin pada setiap langkah dalam mengantarkan siswanya untuk mencapai keberhasilan. Karena itu, tidak ada beban ketakutan yang menghantui jika tidak berhasil, yang ada hanyalah bagaimana upaya yang harus dilakukan agar siswa mencapai keberhasilan dalam belajar,” katanya.

Guru yang mengajar dengan hati, lanjut dia, akan berpengaruh positif kepada siswa. Siswa akan termotivasi untuk belajar yang lebih baik, siswa akan aktif bertanya, menyampaikan pendapat, berdiskusi, atau sekedar mencurahkan permasalahan pembelajaran. Lebih jauh, siswa aktif dan kreatif dalam belajar serta mampu berpikir kritis, berpikir tingkat tinggi, serta berinovasi sesuai dengan tingkat pekembangannya.

Tidak heran jika siswa asyik ngobrol atau acuh tak acuh ketika sedang belajar apabila gurunya kurang motivasi dalam mengajar. Siswa akan memandang guru sebagai sosok pemberi ilmu pengetahuan atau penyampai ilmu pengetahuan. Apabila tidak suka terhadap pembelajaran, maka siswa tidak memperdulikannya, pikiran siswa tidak sejalan dengan pikiran guru,” ujarnya. (job3/sri)