Pimpinan Ponpes At-Taqwa Diamankan Densus

Diduga Terkait Aksi Kerusuhan di Jakarta

0 159
CIANJUR – Ustad Umar Burhanudin Pimpinan Pondok Pensantren (Ponpes) At-taqwa, di Jalan Ali Nur Kelurahan Cikidang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat diamankan Densus 88, Jumat, (24/5) malam. Penangkapan tersebut diduga terkait keterlibatan di aksi 22 Mei lalu, terlebih setelah adanya dua orang anak buahnya yang diamankan.
Sekertaris Ponpes At-taqwa Sobihin, mengiyakan adanya penangkapan Ustad Umar Burhanudin oleh Tim Densus 88. “Ustad Umar diamankan sekitar pukul enam, penangkapannya dilakukan disekitar Ponpes oleh anggota Densus,” kata Sobihin pada wartawan saat ditemui di Ponpes At-taqwa.
Menurut Sobihin ditangkapnya Ustad Umar oleh Densus 88, guna dimintai keterangan terkait dua santri At-taqwa yang ditangkap oleh Brimob di dalam mobil ambulan di Petamburan, Jakarta.
“Sebelum dibawa ke Jakarta, Ustad Umar sempat di ajak makan di sebuah restoran di sekitar Cianjur, untuk berbuka puasa, setelah berbuka Ustad Umar yang didampingi pengacara dan keluarga dibawa ke Jakarta,” ucapnya
Pihaknya menduga penangkap pimpinan Ponpes At-taqwa tersebut merupakan pengembangan dari dua santri At-taqwa yang tertangkap lebih dulu saat aksi 22 Mei beberapa hari lalu.

“Sebelumnya kedua santri At-taqwa yang diaman oleh pihak kepolisian didapati adanya amplop milik Ustad Umar, namun uang tersebut untuk para santri yang selalu menjadi imam taraweh, namun terbawa ke Jakarta, oleh kedua santri tersebut, bukan untu membiayai atau pun untuk membayar masa aksi,” tuturnya.

Sementara itu, sebelumnya, dua orang asal Cianjur yang diamankan bersama ratusan orang saat aksi 22 Mei itu sempat dikaitkan dengan Gerakan Reformis Islam (GARIS), lantaran berdasarkan keterangan kepolisian mereka mengaku sebagai anggota Garis.
Namun Ketua Umum Gerakan Reformis Islam (Garis), Chep Hernawan membantah dua orang yang diamankan pihak kepolisian dalam aksi 22 Mei di Jakarta merupakan anggotanya. Bahkan dia juga menolak jika Garis terus dikaitkan dengan ISIS.

Chep menjelaskan, Garis memang memberangkatkan dua unit ambulans beserta beberapa orang sebagai tim medis dalam aksi tersebut. Namun di antara tim medis yang berangkat juga ada dua orang anak buah salah seorang ulama di Cianjur.
“Di satu mobil itu ada empat orang tim medis, tapi ada juga dua orang anak buah ustad Umar yang ikut bersama ambulans Garis ke Jakarta,” kata dia.
Menurutnya, saat aksi cukup banyak korban luka yang dibawa tim medis dan ambulans dari Garis, sehingga tim hilir mudik ke rumah sakit. Namun dua orang anak buah ustad Umar yang ikut tersebut tidak terlihat saat tim sibuk membawa korban luka.
“Begitu di rumah sakit dapat informasi jika mereka ikut diamankan pihak kepolisian beserta 200 orang lebih lainnya,” kata dia.
Menurutnya, lantaran menumpang dalam ambulans dan tim medis dari Garis, mereka pun mengaku sebagai anggotanya saat dimintai keterangan oleh pihak kepolisian. “Padahal sudah jelas mereka itu bukan anggota kami, entah karena takut atau apa, jadi mengakunya anggota Garis,”  kata dia.
Adapun uang tunai yang turut diamankan dari dua orang tersebut, Chep menjelaskan jika dana tersebut merupakan dana santunan yang dititipkan dari sejumlah orang dermawan di Cianjur. Tetapi terbawa dalam aksi ke Jakarta.
“Mungkin dari ustad mereka jorok nitip uang ke mereka, padahal mereka mau ke Jakarta. Jadinya ditemukan. Tapi katanya itu buat santunan, bukan untuk donasi aksi. Karena kalau dalam aksi itu segala kebutuhan sudah ada, melimpah,” kata dia.(bay/sri)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.