Ahli TIK Khawatirkan dampak Pembatasan Medsos

CIANJUR – Relawan TIK Kabupaten Cianjur menyayangkan adanya pembatasan penggunaan media sosial (medsos) yang malah membuat banyak pengguna internet di Indonesia menggunakan Virtual Private Network (VPN). Pasalnya penggunaan VPN akan membuat banyak pihak bisa kembali mengakses situs terblokir dan rawan peretasan data.

Relawan TIK Cianjur, Mario Devys, mengatakan, penggunaan VPN biasanya hanya oleh orang-orang tertentu yang memang memiliki kepentingan atau keperluan terhadap akses Internet secara luas. Mengingat kerap terjadi pembatasan jika menggunakan IP Address Indonesia.

“Untuk bisa mengaksesnya, biasanya pakai VPN dengan IP luar negeri. Dan itu tidak banyak yang menggunakan, tapi saat ini jadi banyak pengguna internet yang pakai dan menginstal aplikasi VPN di telepon pintarnya,” kata dia kepada Cianjur Ekspres saat dihubungi melalui telepon seluler, Kamis (23/5).

Menurutnya, dengan penggunaan VPN, para pengguna media sosial tidak hanya membuka pembatasan yang dilakukan pemerintah bertepatan dengan kondisi di Jakarta, namun juga membuka akses ke situs yang memang diblokir. Mulai dari situs porno, terorisme, hingga situs lainnya.

“Yang dikhawatirkan, kini juga banyak anak-anak yang menggunakan VPN dan berpotensi membuka situs negatif. Ini jadi tugas besar bagi semua pihak dalam mencegahnya, karena pembatasan yang dilakukan pemerintah jadi percuma dengan tetap bisanya mereka mengakses menggunakan VPN,” ucapnya.

Selain itu, lanjut dia, VPN juga rentan peretasan. Aktivitas dari pengguna internet akan masuk ke data server dari perusahaan atau pengembang dari aplikasi VPN yang diunduh. Mulai dari medsos, pembukaan situs, hingga transaksi online.

Sebagian penyedia VPN memang memberikan jaminan perlindungan data, namun tidak sedikit juga yang memberikan layanan secara gratis namun berpotensi melakukan hal jahat dengan meretas atau memanfaatkan data dari seluler yang menggunakannya.

“VPN itu perlu server, dan dalam pengoperasiannya butuh biaya. Melalui yang berbayar tentu jadi aman, karena ada jaminannya, tapi kan banyak juga yang gratis dan memiliki tujuan tidak baik. Lebih buruk lagi kalau data perbankan saat transfer masuk dan diretas, atau akun jual beli online. Ini yang perlu diwaspadai,” kata dia.

Oleh karena itu, menurut Mario, para pengguna medsos boleh saja menggunakan VPN secara terbatas, tidak menjadikan suatu kebiasaan atau dipasang untuk waktu yang panjang. Anak-anak mereka pun harus lebih diawasi jika menginstal VPN di telepon seluler nya, supaya tidak membuka situs yang dilarang untuk anak.

Sementara itu, tambah dia, pemerintah juga seharusnya tidak mengambil langkah yang kurang tepat, meskipun dengan tujuan yang baik supaya tidak terjadi penyebaran hoax melalui media sosial.

“Bisa dicarikan upaya lain ke depannya, seperti medsos itu hanya boleh dimiliki satu dengan identitas asli. Atau pun bisa dicarikan solusi lain. Mengingat pembatasan tersebut malah jadi bumerang yang merugikan, warga jadi menggunakan VPN, akses situs terblokir bisa kembali dibuka, dan anggaran yang dikucurkan dalam pemblokiran menjadi percuma,” pungkasnya.(bay/sri)