PAPAJAR, Tradisi Warga Cianjur Menyambut Bulan Ramadan

0 72
BISRI MUSTOFA

SETIAP daerah memiliki tradisi yang berbeda-beda dalam rangka menyambut bulan ramadan. Seperti halnya yang ada di Kabupaten Cianjur. Menjelang bulan ramadhan atau penghujung bulan syaban kebanyakan masyarakat Cianjur selalu menyempatkan diri untuk berkumpul dan mengunjungi sejumlah objek wisata. Tak lupa mereka sambil membawa perbekalan makan untuk disantap secara bersama-sama.

Tidak hanya warga muslim yang melakukan tradisi seperti itu, mereka telah mempersiapkan diri kebiasaan yang tidak diketahui kapan dimulainya. Yang pasti mereka telah mempersiapkan segala keperluan untuk piknik bersama keluarga, tetangga, teman sekolah, atau rekan kerja. Tradisi inilah bagi masyarakat Cianjur disebut sebagai “Papajar”.

Sebuah istilah yang kemungkinan tidak ditemukan dalam kamus Bahasa Sunda. Tidak hanya mendatangi tempat atau objek wisata, banyak juga warga Cianjur yang sengaja melakukan dengan kumpul keluarga, tetangga rumah sambil membawa makanan untuk disantap bersama. Masyarakat menyadari bahwa sebentar lagi tidak akan melakukan makan bersama disiang hari setelah tiba bulan puasa.

Tentu tidak hanya sekedar untuk makan bersama. Ada nilai lain dibalik kebersamaan itu. Acara kumpul bersama merupakan salah satu ajang untuk bersilaturahim dan saling memaafkan atas kekhilafan yang pernah dilakukan, agar pada waktu ramadan tidak terbebani dengan rasa bersalah kepada orang lain. Bahkan tidak sedikit acara ini disertai dengan taushiyah dan berdoa bersama.

Budayawan Cianjur, Luki Muharam mengakui belum ada peneliti yang tertarik menelusuri asal muasal Papajar tradisi makan bersama jelang Ramahan yang memang hanya ada di Cianjur. Sepekan memasuki bulan suci Ramadan seperti saat ini objek wisata air biasanya menjadi tujuan berbagai lapisan warga Cianjur untuk melaksanakan Papajar jauhnya mungkin ke Pelabuanratu Sukabumi atau di Jangari saja. Naik mobil pribadi hingga “udunan” sewa mobil terbuka sah sah saja.

“Di Cianjur, dulu sebelum ada alat komunikasi telepon, belum ada radio dan televisi. Untuk mengetahui awal Ramadhan. Para Ajengan dari pelosok Cianjur datang berduyun duyun ke masjid Agung Cianjur. Tujuaannya untuk mengetahui kapan tibanya awal Ramadan dari fatwa Imam Besar Kaum Cianjur, bisa saja saat jaman Tuan Guru Haji Isa sesepuh Gedong Asem yang pernah menjadi Imam Besar Masjid Agung Cianjur (kl th 1900),” papar Dr. Abah Ruskawan Dosen Universitas Pasundan Bandung.

Abah yang asli Bojongpicung Cianjur itu menjelaskan, sambil menunggu keputusan awal Ramadan dari Imam Besar itulah, para ajengan dari pelosok Cianjur itu menunggu di pelataran Kaum sambil “murak timbel” makan bersama-sama para ajengan lainnya.

Setelah mendapat fatwa awal Ramadan rombongan ajengan ini pulang kembali kekampungnya masing-masing setelah sebelumnya “nyimpang heula” ke pasar yang saat itu tidak jauh dari Kaum, belanja “pindang dan lauk asin” untuk keperluan Ramadan. Seiring perjalanan waktu, tradisi ini bergeser menjadi rekreatif dan dilaksanakan seperti sekarang ini.

Entah siapa yang menamainya kemudian menjadi Papajar yang katanya singkatan dari Mapag Fajar Ramadhan. Semoga didalam Ramadan nanti kita berupaya meningkatkan ketakwaan dan ukhuwah Islam walaupun dalam suhu politik meninggi pasca pilpres yang baru lalu,” pungkas Abah Ruskawan. (bisri mustofa/cianjur ekspres)**

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.