Generasi Muda Harus Bijaksana

Menyikapi Pelaksanaan Pemilu yang Tinggal Menghitung Hari

0 82

CIANJUR – Menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum 2019 yang akan dilaksanakan pada 17 April 2019 suhu politi kian memanas. Kondisi tersebut mendapatkan tanggapan dari tiga mahasiswa Universitas Suryakancana (Unsur) Cianjur. Menurut ketiga mahasiswa yakni Iya Purwati dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (Febi), Tri Rahmat Maulana Hidayat, Aktivis Mahasiswa, dan Presiden Mahasiswa, Panji Sakti Sukandi bahwa generasi muda harus tetap bijaksana.

Menjelang pemilu, seluruh tahapan pemilu sudah disosialisasikan keseluruh pelosok negeri oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Persiapan demi persiapan telah dimatangkan demi mensukseskan pesta demokrasi lima tahunan. Sistem politik secara demokrasi adalah sistem politik dengan partisipasi masyarakat yang cukup tinggi. Salah satu tolak ukurnya adalah suara rakyat yang diberikan melalui pemilihan umum yang dilakukan secara langsung, dan sudah menjadi bagian dan tanggung jawab generasi muda merupakan pemilih yang bijaksana.

Mahasiswi Fakultas Febi Unsur, Iya Furwati mengatakan, tidak bisa dipungkiri memang, bahwa generasi muda adalah generasi yang penuh semangat, di mana memiliki jiwa penuh amunisi moodboster (Penguat suasana hati) dan jiwa yang penuh ambisi kuat untuk maju dan membangun.

“Generasi muda dan politik merupakan dua elemen atau bagian yang tak dapat dipisahkan dalam pembangunan suatu bangsa. Karena dari sisi itulah generasi muda dapat memberikan kontribusinya dalam pembangunan nasional,” kata dia melalui rilis yang diterima oleh Cianjur Ekspres, Minggu (14/4).

Selain itu, Tri Rahmat Maulana Hidayat, aktivis mahasiswa menuturkan bahwa generasi muda itu haruslah paham mengenai tekhnis maupun aturan-aturan yang ada, sehingga kecenderungan curang akan ada pengurangan.

“Kita bukan tidak percaya terhahap lembaga-lembaga yang terlihat di sana, tetapi yang namanya politik merupakan sesuatu yang mengejutkan makanya perlu dipahami dari seluruh aspek-aspek, dan selain memahami kita juga harus menyebarluaskan sehingga masyarakat yang lainnya turut memahami,” tuturnya.

Dilanjutkan Rahmat, di dalam UU No 40 Tahun 2009 Pasal 17 ayat 1 yakni peran aktip pemuda sebagai kekuatan moral diwujudkan dengan menumbuh kembangkan aspek etik dan moralitas dalam bertindak pada setiap dimensi kehidupan kepemudaan.

“Maka dari itu pantaslah generasi muda turut andil dalam pembangunan nasional dalam upaya melakukan pendidikan politik, dengan tujuan mewujudkan sistem politik yang lebih baik lagi kedepannya,” ungkapnya.

Disamping itu, tak dapat dipungkiri pemuda juga yang selalu memiliki aspirasi yang berbeda dengan aspirasi masyarakat pada umumnya, dalam makna positif dengan semangat yang membara dan aspirasi yang membaharui kreatif dan inovatif. Pemuda yang dituntut aktif sebagai penyumbang kekuatan moral, kontrol sosial,dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan nasional.

Stop terbawa informasi yang menghanyutkan dan menjelek-jelekan salah satu personal paslon. Generasi muda ialah contoh nyata generasi harapan bangsa yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan bukan ikut serta saling menjatuhkan. Kritik kebijakan dan programnya bukan personal apalagi saling menjatuhkan dan membawa-bawa latar belakang keluarganya. Kebijakan diperoleh karena membuka diri dan tidak saling mencari kesalahan satu sama lain.

Halnya sejarah perjuangan bangsa indonesia, tentang keikutsertaan generasi muda yang tampil dalam salah satu kekuatan penentu kemajuan bangsa, generasi intelektual yang memiliki jiwa idealisme yang tinggi tanpa pamrih dan rela berkorban dimasanya.

Sumpah pemuda 1928 dan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 ialah bukti nyata generasi muda sebagai pemelopor yang menginginkan perubahan di tanah air tercinta, terlepas dari belenggu kaum penjajahan.

Presiden Mahasiswa Unsur Panji Sakti Sukandi menuturkan, generasi muda adalah harapan bangsa di mana generasi inilah yang akan melanjutkan perjuangann dalam berbagai aspek lainnya, termasuk politik yang tengah menjadi sorotan.

Namun disisi lain tak bisa kita pungkiri dengan banyaknya generasi muda yang memiliki sikap fanatisme terhadap politik, contohnya dengan sikap-sikap fanatisme terhadap pasangan calon presiden ataupun calon legislatif yang menimbulkan suatu permasalahan bagi persatuan dan kesatuan NKRI.

“Betapa kesadaran akan persatuan sangat penting dari sekedar kepentingan politik yang hanya bersifat sementara, maka dari itu tetaplah berpikir waras dan bertindak bijak sebagai generasi muda adalah jawaban dari keadaan politik yang kian hari kian menanas di Indonesia,” tuturnya (job3/sri).

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.