Mabes Polri Monitor Kasus Viralnya e-KTP WNA

Kapolres Cianjur Akui Diminta Data dari Tim Cyber Crime

0 90

CIANJUR – Mencuatnya warga negara asing (WNA) yang memiliki e-KTP di Cianjur menyita perhatian banyak pihak, salah satunya dari pihak kepolisian. Cyber crime Mabes Polri sudah turun memonitor kasus viralnya e-KTP WNA tersebut.

Hal itu di benarkan Kapolres Cianjur AKBP Soliyah. Selaku penegak hukum di wilayah Cianjur senantiasa berkoordinasi dan melengkapi permintaan data yang diminta oleh tim cyber crime.

“Cyber crime Mabes Polri sudah monitor viralnya masalah ini di media sosial,” ujar Soliyah saat di temui usai menghadiri acara pelantikan pengurus PWI di Pancaniti, Cianjur, Kamis (28/1)

Saat ditanya apakah ada dugaan penyebar hoaks di Cianjur, Soliyah menjawab hal tersebut sepenuhnya ia serahkan kepada tim cyber crime. “Tugas kami sekarang menyediakan data yang diminta tim cyber crime,” ujar Soliyah.

Soliyah mengatakan, urusan kesalahan input nomor induk kependudukan sehingga kewarganegaraan Cina masuk ke dalam DPT, ia menghormati langkah yang sedang dilakukan Bawaslu dan KPU Cianjur. “Jadi persoalan itu silakan tanya ke Bawaslu atau KPU perkembangannya seperti apa,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, Nomor Induk Kependudukan (NIK) Warga Negara Asing yang bekerja di Cianjur masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Namun dalam data KPU, NIK tersebut bukan atas nama TKA, melainkan nama Bahar (47) seorang warga di Kelurahan Sayang.

Hal itu terungkap setelah dilakukan pengecekan pada aplikasi KPU RI. Ketika dimasukan NIK TKA tersebut dengan nama Bahar, muncul daftar pemilih untuk TPS 9 di kelurahan tersebut.

Namun ketika dimasukan NIK dengan nama TKA asal China itu, tidak muncul daftar pemilih atau pemilih tidak terdaftar. Begitu pun jika dimasukan NIK asli dari Bahar, muncul juga pemberitahuan jika tidak terdaftar.

Bahar, mengaku heran jika identitasnya terutama nomor induk yang terdaftar dalam pemilih berbeda dengan NIK aslinya. Menurutnya, hal ini baru terjadi selama dia tinggal di Gang Arrohim RT 01/03 Kelurahan Sayang itu.

“Saya dari tahun 1996 tinggal di sini, biasanya tidak ada masalah. Tapi ternyata kali ini ada perbedaan di NIK. Saya juga baru tahu dari pak RT, tadi pagi memberitahukan ke saya masalah ini,” kata dia.

Dia juga mengaku khawatir saat pelaksanaan pemilihan umum nanti tidak bisa menyalurkan hak pilihnya. Sebab meskipun sudah ada dalam daftar pemilih, namun NIK dalam DPT dan di KTP-nya berbeda.

“Saya juga bingung harus bagaimana, semoga saja dari KPU bisa memberikan solusi. Kan NIK saya beda dengan KTP, di sana yang terdaftar malah NIK WNA yang bekerja di Indoensia, meskipun namanya saya,” kata dia. (yis/sri)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.