Viral, Sejumlah Budayawan ‘Tangisi’ Tugu Mangkok Bubur Ayam

1 1.019

CIANJUR, cianjurekspres.net – Berbagai kalangan di Kabupaten Cianjur mempertanyakan pembangunan tugu yang baru berdiri di Jalan Raya Cipanas-Cianjur, tepatnya di pertigaan Kecamatan Pacet karena dinilai tidak memiliki estetika.

Seperti yang diketahui, Pemkab Cianjur membangun sejumlah tugu di beberapa pertigaan di wilayah kota dan selatan, sehingga menuai protes dari berbagai kalangan dan kembali diubah. Tapi baru-baru ini, dinas terkait membangun tugu mangkok bubur ayam.

Sama dengan tugu-tugu lainnya, berbagai kalangan seperti akademisi, seniman, budayawan, tokoh publik dan warga melampiaskan protesnya di media sosial dengan dalih yang sama tugu tersebut tidak memiliki filosofi dan melanggar estetika.

“Apa makna dari mangkuk bubur ayam yang dijadikan tugu di pertigan Jalan Raya Pacet itu, apakah ada sejarah yang mendalam dari mangkuk bubur tersebut, sehingga terbentuknya Kota Cianjur,” ujar Budayawan Cianjur, Eko Wiwid, Senin (21/5).

Menurutnya, nilai estetika terkait pembangunan tugu di Cianjur, selama ini tidak pernah mendasar atau berdasar
alias asal jadi dengan judul tugu, tanpa memikirkan filosofi dan nilai sejarah dari tugu tersebut.

“Saya berharap di tempat kelahiran saya di Cianjur, tepatnya Kawasan Puncak-Cipanas, Cianjur. Ada monumen atau tugu, atau apalah namanya dengan sosok atau objek dalam dua hal pokok tentang sejarah atau ketokohan yang menjadi legenda,” tuturnya.

Dia mencontohkan, dengan sosok Dalem Cikundul yang di dambarkan dengan cerita “Kuda Kosong” maka kuda sebagai identitas, legenda Cianjur yang berkaitan dengan Cikundul dan Gunung Gede-Pangrango atau sosok Presiden Pertama Indonesia, Soekarno, yang banyak kisah hidup di Cipanas.

Bahkan, tambah dia, fakta ada tempat khusus peninggalan Soekarno di Istana Cipanas (Gedung Bekas Belanda) dan Tugu Taruna Giri di Ciloto-Puncak serta banyak cerita tempat singgah sang Proklamator di Cianjur.

“Kenapa tidak flora dan fauna yang ada di Kawasan Puncak Cianjur yang identik dengan kawasan hijau dan hutan belantara bisa dijadikan simbol dalam membuat monumen atau tugu di Kawasan Cipanas,” katanya.

Hal senada terucap dari berbagai tokoh muda di Cianjur, mereka berharap pembangunan tugu atau monumen harus berdasarkan estetika dan kajian mendalam tidak asal bangun karena mengunakan dana terlepas dana APBD atau hadiah.

“Sepertinya Cianjur sedang demam membuat tugu, tapi tidak masalah kalau memang jelas tujuannya dan bentuk tugunya.
Alangkah baiknya tugu tersebut yang berkaitan dengan tempatnya berdiri karena di Pacet kenapa tiddak sayuran atau bunga,” kata pelaku seni Cianjur, Ival Taufik.

Di samping itu, sejumlah kalangan tokoh pemuda di Cipanas memprotes keberadaan tugu mangkok bubur ayam yang berlokasi di persimpangan arah Kantor Kecamatan Pacet atau depan rumah makan Alam Sunda Desa Cipendawa Kecamatan Pacet.

Hal tersebut ramai dibahas di beberapa group WhatApps, seperti yang diutarakan oleh Ketua Paguyuban Pamacan, Rama Ariandi menyebutkan bahwa dirinya baru mengetahui kalau tugu yang di persimpangan Kecamatan Pacet tersebut tugu mangkok bubur ayam.

Selaku warga Cianjur utara pihaknya keberatan dengan adanya tugu mangkok bubur ayam di wilayah Pacet-Cipanas karena Cianjur utara atau cipanas tugunya harus yang khas dengan kearifan lokal Cipanas-Pacet dan berkaitan dengan sejarah asal-usul daerah tersebut.

“Misalnya simbol-simbol macan, kuda kencana, elang Gunung Gede-Pangrango ataupun hasil ternak juga sayur kan itu lebih bisa pas untuk wilayah Pacet-Cipanas,” kata Rama.

Dia mengatakan, pada dasarnya Rama menyetujui dengan adanya tugu dan simbol-simbol di Cianjur. Akan tetapi tidak juga dengan tema bubur, ia mengaku sedih dan banyak timbul pertanyaan apa maksud dan tujuan juga makna mengenai tugu mangkok bubur ayam tersebut.

“Sedih juga, dan jadi cemoohan warga. Saya harap ada penjelasan yang masuk akal dari pembuat tugu tersebut, dan saya harap juga tugu tersebut tetap ada tapi simbol buburnya harus di ganti. Kalau tidak diganti juga kita akan berdiskusi sama rekan-rekan akan mengadakan aksi protes ke pemkab,” katanya.(bay/mg2/red)

1 Komen
  1. Dadan Rusdan berkata

    Atuh wajar we da difikir-fikir mah teu aya kaitanna sareng sejarah cianjur, katambih daripada dianggo kana tugu mending kanggo perbaikan jalan-jalan di wilayah cianjur puguh-puguh seep ratusan juta ge moal rugi aya bukti nyandak kendaraan ge lecir… 😀

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.