Solusi Pemanis untuk Penderita Diabetes

Oleh: Amanda Gita Fikriyah dan Sisilia Bilynda Lestari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Institut Pertanian Bogor

0 26

RISET Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan prevalensi diabetes mellitus di Indonesia meningkat dari 1.5% di tahun 2013 menjadi 2.0% di tahun 2018. Diabetes mellitus yang sering terjadi di Indonesia adalah diabetes mellitus tipe 2 yang merupakan penyakit hiperglikemia akibat insensivitas sel terhadap insulin.

Penyakit ini biasanya disebabkan oleh pola makan dan gaya hidup yang kurang sehat. Pada penderita diabetes, konsumsi gula menjadi salah satu pantangan karena dapat meningkatkan kadar gula darah. Oleh karena itu, penderita diabetes mellitus harus mengatur pola konsumsi makanan terutama pada jumlah kalori. Salah satu solusinya yaitu dengan substitusi gula menggunakan pemanis buatan.

Menurut Permenkes RI No. 33 tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan, pemanis adalah bahan tambahan pangan berupa pemanis alami dan buatan yang memberikan rasa manis pada produk pangan. Pemanis buatan memiliki tingkat kemanisan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan gula (sukrosa) sehingga dapat digunakan dalam jumlah sedikit. Pemanis buatan sebagai pengganti gula dapat menghasilkan energi namun dimetabolisme secara lambat sehingga kadar gula darah cenderung lebih stabil (Neacsu dan Madar 2014).

Salah satu pemanis buatan yang memiliki potensi sebagai pengganti gula untuk penderita diabetes adalah thaumatin. Thaumatin merupakan protein yang berasal dari buah tumbuhan Thaumatococcus daniellii (katemfe). Thaumatin dapat diproduksi dengan cara isolasi kemudian dipurifikasi.

Selain itu, telah dikembangkan inovasi bioteknologi dengan melibatkan proses transfer gen ke dalam inang lain seperti bakteri E. coli, Bacillus cereus, dan lain-lain. Thaumatin dapat menjadi penguat rasa (flavor enhancer) pada beberapa produk pangan antara lain permen karet (terutama pada rasa peppermint), kopi, dan soft drink. Pemanis ini dapat bekerja sinergis bersama pemanis lain seperti sakarin, asesulfam-K, dan stevia (Dahal dan Xu 2012).

Thaumatin dapat meningkatkan dan memodifikasi flavor, meningkatkan mouth feel, dan memberikan rasa manis alami pada produk. Pemanis ini memiliki tingkat kemanisan 2000 kali lebih manis dari sukrosa. Sebagai protein, thaumatin memiliki nilai gizi yang sama dengan protein lainnya yaitu 4 kcal/g namun karena memiliki tingkat kemanisan sangat tinggi, jumlah yang digunakan sangat kecil sehingga nilai kalorinya dalam produk pangan dapat diabaikan.

Keamanan dari thaumatin telah dibuktikan pada manusia dan hewan bahwa pemanis ini tidak menyebabkan kerusakan pada gigi dan dapat digunakan untuk penderita diabetes. Thaumatin dikategorikan sebagai GRAS oleh Food and Drugs Administration di Amerika Serikat.

Bahan tambahan pangan yang dikategorikan sebagai Generally Recognize As Safe (GRAS) adalah bahan yang dosis penggunaannya relatif bebas dan tidak dibatasi. Regulasi di Indonesia belum mengatur penggunaan thaumatin karena penggunaannya yang masih sangat minim namun karena sudah dikategorikan sebagai GRAS, bahan ini dapat digunakan untuk pemanis bagi penderita diabetes.**

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.