Hujan Turun, Petani Garap Sawah

Petani Cisel Harap Ketersedian Pupuk Bersubsidi Tidak Langka

0 18

CAMPAKAMULYA – Sejumlah petani lahan sawah tadah hujan di Kecamatan Campakamulya dan Sukanagara, Kabupaten Cianjur mulai melakukan penggarapan lahan sawah mereka sembari menunggu semaian bibit padi siap untuk di tanam.

Berdasarkan pantauan Cianjur Ekspres, sejumlah petani diwilayah Kecamatan Campakamulya dan Sukanagara terlihat melakukan penggarapan lahan dengan melakukan pembajakan menggunakan mesin pembajak sawah.

“Targetnya penggarapan lahan itu di pertengahan bulan Januari ini sudah bisa ditanami. Bibit sudah disemai dan sudah hampir waktunya untuk ditanam. Mudah-mudahan pupuk tidak ada kelangkaan sehingga petani bisa dengan mudah merawat tanaman padi,” ujar Cece salah satu petani sawah di Campakamulya kepada Cianjur Ekspres, Rabu (2/1).

Hal sama dilakukan petani sawah di Kecamatan Sukanagara, musim hujan saat ini dimanfaatkan para petani untuk menggarap sawah. Aktivitas pengolahan lahan dimulai dengan proses persiapan pembajakan serta menyiapkan lahan untuk semai benih padi.

Apih Endang (40) warga Desa Sukamekar, Kecamatan Sukanagara mengatakan, pengolahan lahan sawah yang sebelumnya menggunakan tenaga kerbau, sekarang menggunakan mesin traktor sebab, diakuinya kerbau saat ini sudah tergeser oleh tenaga mesin traktor yang banyak dimiliki perseorangan.

“Ya, meski biaya operasional lebih besar namun kecepatan pengolahan menjadi pilihan. Jadi karerna itu walau biaya mahal kita gunakan jasa traktor,” terangnya.

Khusus untuk penyewaan traktor, ia mengaku sebelumnya melakukan negosiasi dengan pemilik jasa traktor. Negosiasi terkait luasan lahan yang harus dikerjakan termasuk tingkat kesulitan lahan. Pada lahan dengan kondisi rata tanpa halangan kontur bebatuan, penggunaan mesin traktor dilakukan dengan sistem borongan dari kisaran Rp 800.000,- per hektar naik menjadi Rp 900.000,- hingga kini mencapai Rp 1.200.000,- per hektar.

“Meski mahal namun kecepatan dalam pengolahan lahan bisa memangkas waktu sehingga untuk pemilik lahan tinggal merapikan petak sawah saja,” ujarnya.

Merapikan petak sawah tersebut diakuinya dikerjakan setelah proses penghalusan lahan dan proses pengairan (ngelep) seluruh petak sawah agar tanah mengendap menjadi lumpur. Proses tersebut dilakukan sembari membuat persemaian padi hingga lamanya 21 hari.

“Yang jelas dengan mulainya penggarapan sawah ini, harapan petani bisa juga dibarengi dengan mudahnya mendapatkan pupuk murah (bersubsidi),” tutupnya. (zen/sri)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.