Siapa Pantas Jadi Wabup?

Munculnya Kader Muda Semakin Menguat

0 168

CIANJUR – Kandidat pengisi Jabatan Wakil Bupati Cianjur atau F2 mulai bermunculan. Sejumlah nama pimpinan partai pengusung pun digadang-gadang akan mengisi jabatan tersebut. Namun praktisi dan pengamat mendorong jabatan tersebut diisi oleh kaum muda yang bisa bekerja cepat untuk mengimbangi roda pemerintahan yang sudah berjalan.

Pengamat Hukum Tata Negara, Dedi Mulyadi, mengatakan, nama-nama yang muncul belakangan ini memang memiliki potensi besar untuk menduduki kursi Wakil Bupati Cianjur, seperti Moh Toha dari PBB, Lepi dari PKB, serta Tb Mulyana dari Partai Golkar.

Namun, lanjut dia, nama-nama muda juga bisa jadi perhatian untuk mengisinya. Seperti Firman Mulyadi, dimana sosoknya masih muda, memiliki riwayat akademis yang baik, dan berada di lingkungan partai Golkar hingga menjadi tenaga ahli. Meskipun ada juga nama kaum muda dari partai Golkar yang muncul, yakni Deden Nasihin.

“Saya kira sudah ada beberapa nama yang muncul, tapi lebih condong ke kaum muda. Mengingat harus ada penyeimbang jika nanti Herman Suherman memang dipilih untuk menjadi bupati secara definitif. Ketika bupatinya dari kaum tua, wakilnya ini saya kira lebih baik dari kaum muda,” kata dia kepada Cianjur Ekspres, belum lama ini.

Meski begitu, kunci nama yang benar-benar dipilih ada di komunikasi politik antar tiga partai, yakni Golkar, PKB, dan PBB. Mengingat ketiga partai tersebut merupakan pengusung dan pemenang dalam kontestasi pemilihan kepala daerah sebelumnya.

“Namun kunci masuk utama diperkirakan ada di Partai Golkar untuk bisa menduduki jabatan strategis tersebut,” kata dia.

Oleh karena itu, perlu dilakukan komunikasi politik dengan ketiga partai. Bahkan kemungkinan, nama yang muncul sebagai pengisi jabatan Wakil Bupati Cianjur pun bukan dari internal partai politik pengusung.

“Apalagi kalau dilihat dari regulasi yang ada, termasuk jika yang mencalonkan diri sebagai caleg tidak bisa mengundurkan diri. Nama-nama muda yang bisa maju, seperti Firman dari Golkar, atau kaum muda dari PKB dan PBB. Atau mungkin di luar dari parpol juga bisa jadi,” kata dia.

Dia pun mendorong ketiga partai bisa segera mencari kandidat kuat untuk pencalonan. Sistem konvensi pun bisa dilakukan untuk menjaring calon yang memang satu visi dengan parpol, baik dari orang parpol ataupun dari luar.

“Itupun bisa jadi salah satu alternatif jika memang ada kendala ataupun sulitnya mencari kandidat. Tapi saya rasa ketiga partai ini sudah calon, baik dari petinggi atau bahkan dari kaum mudanya,” kata dia.

Percepatan komunikasi politik untuk menentukan kandidat, ungkap Dedi, dilakukan agar prosesnya bisa lebih singkat. Dengan begitu, penetapan bupati dan wakil bupatinya bisa disegerakan, mengingat masa jabatan tidak lebih dari setengah periode lagi.

Meskipun, tambah dia, nantinya penetapan dilakukan pasca putusan pengadilan terkait kasus yang menyangkut Bupati Cianjur, Irvan Rivano Muchtar.

“Sarannya tetap dilakukan pasca incrach, soalnya bisa saja ketika proses Irvan ini dinyatakan tidak bersalah, meskipun belum pernah ada sejarahnya yang di OTT KPK itu lepas dari jeratan, mengingat sudah ada barang bukti kuat. Sebelum putusan itu, proses dan komunikasi politiknya harus sudah dilakukan, sehingga nanti tinggal dipilih juga oleh DPRD secara keseluruhan,” kata dia.(bay/sri)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.