Pendidikan Sebagai Landasan Untuk Patuh dan Taat

0 58

CIANJUR – Ditelusuri dari Catatan sejarah peringatan hari ibu di Indonesia berawal dari digelarnya kogres perempuan tanggal 22 desember 1928. Hal ini dilandasi dengan mengumpulkan seluruh kaum perempuan dari berbagai pelosok tanah air dan membentuk organisasi di Yogyakarta yang bertujuan untuk memperbaiki nasib bangsa Indonesia yang masih dihadapkan dengan penjajahan pada masa itu.

Saat itu hari ibu diasosiasikan dengan beberapa pergerakan para aktivis perempuan. Perayaan hari ibu merupakan bentuk peringatan kongres perempuan Indonesia yang pertama.

Ketua Kohati Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Al-Fatih, Iya Aliyawati mengungkapkan, peringatan hari ibu itu tidak seharusnya hanya sebagai seremonial belaka, tetapi ada esensi penting di dalamnya yang dimana bahwa pengungkapan rasa kasih dan sayang kepada seorang ibu itu tidak cukup ditanggal 22 desember saja.

“Tetapi seharusnya setiap hari adalah hari ibu, kasih dan rasa terima kasih itu seharusnya tidak hanya sekedar ucapan tetapi meliputi bukti nyata bakti seorang anak kepada ibunya yang sudah sangat berjasa dalam hidupnya. Artinya pengungkapan rasa kasih sayang itu akan sangat berarti bagi orang tua, terkhusus bagi seorang ibu apabila dengan langkah nyata yang tidak hanya sekedar ucapan belaka dan itupun digembar-gemborkan dimedia masa,” katanya.

Menurut Iya, dikeadaan saat ini ada beberapa kekeliruan diantaranya perjuangan yang begitu gagah dan elegan itu tercatat dalam sucinya sejarah peradaban yang kini hanya sekedar seremonial diera mileneal. Terbukti dengan banyaknya anak-anak zaman sekarang yang hanya memperingati dan dihiasi simbol–simbol kasih sayang. Selepas itu kembali pada tuntutan keinginan yang tidak sedikit memberatkan kepada orang tua.

“Ironis memang diantara sucinya perayaan dan awal sejarah sulitnya perjuangan perempuan sebagai kaum yang seharusnya menjadi panutan bukan sebagai objek kekerasan, bahkan formalitas untuk di gembar-gemborkan bahkan sekedar perayaan belaka tanpa bukti nyata dan langkah pasti seorang anak untuk berbakti menjaganya,” katanya.

Kelak, lanjut dia, seperti jasa seorang ibu dahulu yang mengandung sampai merawat diwaktu bayi bahkan sampai sekarang jasanya tak tertampung, bahkan tak cukup untuk dikenang.
Ini bertolak belakang dengan kejadian yang ada di Kelurahan Sokorejo, Kecamatan Pelakongan selatan terjadi aksi pembunuh seorang ibu yang tewas di tangan anak kandungnya sendiri.

“Apa masih pantas dengan adanya kejadian itu Hari Ibu masih tetap di rayakan? maka dari itu kesadaran selaku anak perlu dirubah, jangan hanya terpaku dengan seremoni belaka, karena ada makna yang lebih kita utamakan dari pada itu,” ungkapnya.

Iya menjelaskan, keistimewaan yang lebih kepada seorang ibu agar seorang anak dapat patuh dan hormat kepadanya. Berbanding terbalik dengan kenyataan yang nampak hanyalah sebuah seremonial yang di gembar-gemborkan diatas panggung tuntutan tanpa menilik langkah pasti ataupun bagaimana meneruskan perjuangan seorang ibu yang tak mudahnya mengemban beban seorang kaum perempuan yang seharusnya menjadi panutan.

“Maka dari itu kita selaku anak, dan harapan dari mereka seyogyanya mampu menjadi kebanggaan bukan menjadi bumerang dimasa yang akan datang, dan mengelementasikan pendidikan sebagai landasan bahwa patuh, taat, dan berbakti tak dapat luntur diera mileneal ini,” pungkasnya. (job3/yis/sri)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.