Refleksi Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kualitas

Guru Seharusnya Mengukur Sendiri Proses dan Hasil Pembelajaran

0 14

CIANJUR – Sekarang ini seolah berlaku trend atau kecenderungan dimana pengajaran yang dilakukan oleh para pendidik di kelas, kajiannya dilakukan oleh pihak eksternal dan cara top down yang tidak hadir di dalam kelas pada saat pembelajaran berlangsung.

Badriah, guru Bahasa Inggris SMAN 2 Cianjur mengungkapkan, pihak luar dan pihak atas, seolah tahu benar apa yang terjadi di dalam kelas sehingga lahirlah ulasan-ulasan yang mengatasnamakan proses pembelajaran, kemudian memberikan masukan dan solusi yang dipandang paling tepat sebagai resep yang harus dilakukan oleh para guru.

“Sedangkan secara top down, pemerintah memberikan reaksi terhadap hasil pembelajaran yang dipandang masih belum optimal dengan cara memberikan pelatihan yang pukul rata, dalam arti semua guru diberi materi pelatihan yang sama yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan guru,” kata dia kepada Cianjur Ekspres, belum lama ini.

Badriah menjelaskan, trend tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas pengajaran yang selama ini dianggap makin menurun. Peningkatan kualitas mengajar boleh saja dilakukan pihak luar dan secara top down. Namun jika melihat pada peraturan yang menaunginya, guru seharusnya mengukur sendiri proses dan hasil pembelajaran yang dilakukannya.

“Hal ini telah diatur dalam Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Kualifikasi Akedemik dan Kompetensi Guru. Mengacu pada peraturan tersebut, guru berkewajiban melakukan refleksi dalam pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dan meningkatkan kompetensi dirinya secara professional dengan cara melakukan refleksi pembelajaran,” katanya.

Secara sederhana, refleksi pembelajaran dapat diartikan sebagai tindakan guru dimana ia melihat secara jujur apa yang dilakukan dari waktu ke waktu, atau mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran yang telah dilakukan untuk memperbaiki pembelajaran dan sebagai dasar untuk pengembangan kompetensi professional. Mengkaji, mengevaluasi dan melihat kembali apa yang dilakukan ketika proses mengajar itulah refleksi pembelajaran yang sesungguhnya.

“Berbagai teknik dapat dipilih sebagai alat merefleksikan mengajar. Pertama, jurnal atau catatan harian. Jurnal merupakan catatan yang dibuat oleh guru atau siswa sebagai respon terhadap proses pembelajaran. Pada catatan harian, guru dapat menuliskan yang dilakukanya ketika mengajar. Sedangakan pada catatan harian siswa, siswa dapat menuliskan apa yang dipelajarinya,” ungkapnya.

Ke dua, lanjut dia, catatan mengajar. Catatan mengajar adalah dokumen yang dibuat oleh guru berupa menuliskan langkah-langkah mengajar yang dilakukannya. Cara ini, membantu guru untuk menyandingkan bagian mana dari rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang terlaksana atau malah diubah sesuai kondisi kelas dan siswa. Adanya catatan mengajar memungkinkan guru melihat seberapa efektif pembelajaran yang diberikannya.

“Ketiga, rekaman secara audio atau video. Merekam suara sendiri atau merekam aktivitas dalam bentuk video dengan memanfaatkan gawai milik sendiri. Rerekam pembelajaran sangat menolong guru untuk melihat banyak hal yang terjadi dalam proses pembelajaran, misalnya, mengukur berapa banyak waktu bicara yang digunakannya selama mengajar,” katanya.

Dikatakan Badriah, refleksi pembelajaran sebaiknya dipandang sebagai bagian dari unjuk kerja profesional guru untuk meningkatkan kompetensi dirinya sebagai pendidik. Melalui refleksi pembelajaran, guru dapat melakukan kontemplasi pembelajaran yang telah diberikannya.

“Melakukan refleksi dengan cara menuliskan secara jujur apa yang dilakukan selama pembelajaran dan kemudian mengevaluasinya, memberikan dua manfaat sekaligus,” kata Badriah.

Pertama, lanjut dia, melakukan refleksi dengan cara menuliskannya, memicu guru untuk menjadi literat yakni berpindah dari budaya lisan ke tulisan. Ke dua, guru memiliki artefak pembelajaran yang dapat dijadikan bukti bahwa sebagai seorang profesional semua aktivitasnya terdokumentasikan dengan baik.

“Teknik mendokumentasikan refleksi yang manapun yang dipakai secara perlahan kelak mengarahkan pada kajian mengajar oleh pihak internal dan bottom up. Internal dalam arti dilakukan oleh guru itu sendiri dan kajiannya berpijak pada pengalaman mengajar. Bottom up mengacu pada pemenuhan peningkatan kualitas guru datangnya dari suara guru, berdasarkan apa yang dibutuhkannya sehingga secara perlahan guru menjadi lebih kompeten,” pungkasnya. (job3/sri)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.