Memancing Ikan Nila Badot di Tengah Keramaian Lokalisasi Apung

Berbagi Spot dengan Wanita Panggilan

0 344

CIANJUR, cianjurekspres.net – Keseruan memancing ikan nila jumbo di Waduk Jangari, Kampung Pasirpanjang, Desa Cikidang, Kecamatan Mande. Lokasi spot mancing itu dikenal dengan Lapak Sabelas atau Dongdot, dengan bobot ikan nila mencapai 3 hingga 4 kilogram per ekor. Para pemacing menyebutnya ‘Dongdot’ lantaran lokasinya sangat berdekatan dengan lokalisasi apung di wilayah itu. Simak penelusurannya!

REDDY MUHAMMAD DAUD, Mande

BAGI para pehobi mancing di Waduk Jangari sudah tak asing lagi dengan lokasi atau spot mancing Lapak Sabelas. Tentunya, ikan-ikan di waduk itu sangat melimpah dan hampir semua jenis ikan tawar ada di sana.

Lain dulu, lain sekarang. Konon, pada zaman dulu ketika Waduk Jangari diresmikan oleh Presiden RI ke-2, Soeharto sekitar tahun 80’an belum padat disambangi para pemancing. Namun, kini sudah ada ratusan bahkan ribuan pemancing dari berbagai daerah menjajal spot pemancingan di wilayah itu.

Apalagi jika hari libur, Sabtu dan Minggu. Lebih dari 700 unit bargas (perahu bermesin, red) habis dibooking para pemancing. Tarif pulang-pergi sendiri tergolong cukup murah dibandingkan dengan tarif untuk para wisatawan, yakni sekitar Rp 20 ribu per orang.

Biasanya, para pemancing sudah tiba di dermaga Jangari sekitar pukul 03.00 Wib. Hal itu untuk memudahkan mereka mencari spot yang dituju. Bahkan, ada yang rela menginap di rakit (lapak mancing, red) karena takut tidak kebagian lapak.

Seperti di Lapak Dongdot ini. Di sana hanya tersedia 5 atau 6 gerbong rakit saja, dimana satu gerbong terdiri dari 6 sampai 7 lapak saja. Lapaknya sangat terbatas. Sehingga para pemancing berlomba-lomba memburu lapak tersebut karena tak ingin ketinggalan merasakan tarikan ikan nila raksasa tersebut.

Pemancing menyebut rakit ‘Dongdot’ sendiri karena lokasinya sangat berdekatan dengan tempat lokalisasi. Kata dongdot sendiri sebenarnya bahasa Sunda kasar yang berarti wanita penjaja seks (WPS).

Abung, 37, seorang pemancing warga Kampung Leles, Desa Sukamanah, Kecamatan Karangtengah, saat ditemui di lokasi dermaga Jangari tengah bersiap bersama rombongannya menuju Lapak Dongdot. Pukul 04.30 Wib, mereka mulai berangkat menuju lokasi tujuan.

Tiba di sana pukul 05.15 Wib. Abung bersama rombongannya mulai berbenah. Mereka menyiapkan berbagai umpan dan bandul. Pukul 06.00 Wib, suara lemparan bandul dari para pemancing pun mulai ramai terdengar. Itu bertanda, ‘memburu’ ikan nila badot (jumbo) dimulai.

Umpan untuk jenis ikan ini (nila, red) sendiri tergolong mudah didapat dan hemat. Ya, hanya menggunakan lumut atau biasa disebut lukut, begitu kata para pemancing.

Matahari mulai tampak menyinari air di Lapak Dongdot dari timur. Abung mulai melemparkan umpan satu per satu dari jorannya. Suasana masih hening. Abung beserta rombongannya masih konsentrasi.

Tak lama kemudian, strike! Umpan Abung disambar ikan. Terlihat tarikan ikannya sangat kencang. Mungkin ikan nila badot yang menyambar umpannya. Rombongannya pun silih sorak. Suasana di rakit pun mulai bergemuruh bak suporter bola yang menyemangati jagoannya.

“Aah..!” suara Abung terdengar keras. Tali pancingnya putus. Beban tarikan ikan terlalu besar. “Hahahaha…puas!” suara tawa dan teriakan dari rombongannya saat mengungkapkan kekecewaannya.

Namun, tak lama kemudian. Suara tawa rombongannya dibungkam. Abung kembali mendapatkan strike. Kali ini, ikan yang menyambar umpannya sangat besar. Sorakan [un kembali bergemuruh. Abung dengan sangat hati-hati memainkan jorannya. Dan beberapa menit kemudian ikan berhasil diangkat.

Tapi sayang, bukan nila badot yang berhasil diangkat, melainkan ikan mas jumbo. “Aneh, ikan mas kok makan lukut. Tapi enggak apa-apa yang penting dapat ikan,” kata Abung.

Namun, di antara rombongan pemancing lainnya, banyak yang mendapatkan ikan nila badot. Suasana di rakit sabelas atau dongdot pun sangat ramai.

Akan tetapi, keramaian bukan ada di dalam rakit saja. Ada yang unik. Di lokasi itu, tepatnya di seberang rakit dongdot ada sebuah tempat lokalisasi yang tak wajar.

Biasanya, tempat lokalisasi berada di pusat keramaian kota atau tempat wisata. Namun di sana, berada di tempat keramaian kolam jaring apung (KJA) dan spot mancing. Tempatnya mirip dengan KJA.

Entah bagaimana ceritanya, sehingga ada tempat lokalisasi di atas air. Namun, menurut Aep, 52, salah satu penjual makanan dan minuman di atas tongkang (perahu kecil), mengatakan, tempat itu memang sering ramai dikunjungi npara pria hidung belang.

Bahkan, ada saja para pemancing yang iseng berkunjung ke tempat tersebut. “Dulunya sih ada di nusa (pulau kecil) Kampung Genuk. Tapi sekitar tahun 2001, tempat itu dibakar oleh ormas Islam jadi pindah ke tengah (di atas air),” ungkapnya.

Uniknya lagi, para PSK di sana dijuluki ‘lukut hideung’ atau ‘suuk haneut’ oleh para pemancing. Mungkin julukan itu terdengar aneh oleh sebagian kalangan, tapi tidak untuk para pemancing.

Sayangnya, Aep enggan menceritakan lebih jauh tempat lokalisasi tersebut. Entah apa alasannya, dia pun bergegas untuk kembali menjajakan dagangannya.(*)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.