Dewan Panggil RSDH Soal Dugaan Malapraktik

0 54

CIANJUR – Komisi IV DPRD Kabupaten Cianjur memanggil sejumlah pihak terkait kasus dugaan malapraktik di RSDH Cianjur, belum lama ini. Sekaligus membahas soal fasilitas dan kegunaan BPJS Kesehatan yang banyak dikeluhkan warga.

Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Cianjur, Cecep Buldan, mengatakan, komisi IV menggelar audensi soal malapraktik itu bersama RSDH Cianjur, BPJS Kesehatan, Dinas Kesehatan, dan keluarga almarhumah Fadilah Rahmawindani yang diduga menjadi korban malapraktik tersebut.

“Banyak sekali masyarakat yang kebingungan dengan penggunaan BPJS Kesehatan saat akan berobat ke rumah sakit,” kata dia, belum lama ini.

Cecep menjelaskan, dinkes selaku pemerintah yang menaungi puskemas dan rumah sakit harus bertanggung jawab. “Secara pemerintahan dinkes itu harus bertanggung jawab, dan itu mau tidak mau harus mau,” tegasnya.

Kaitan adanya informasi jika rumah sakit itu tidak bisa menggunakan BPJS Kesehatan, kata dia, seharusnya pihak rumah sakit cepat mengambil tindakan. Terlepas isu tersebut kebenarannya benar atu tidak, namun yang pasti pihak rumah sakit harus menyikapinya dengan secara legowo.

“Jangan sampai ada kejadian terulang kembali, dan ini semua harus kita sikapi bersama. Terpenting adalah jangan lagi ada kasus-kasus serupa seperti yang dialami almarhumah Fadilah,” kata dia.

Dia menyebutkan, ada informasi yang diterimanya jika orang sakit itu seolah tidak boleh sakit, karena terbentur dengan biaya yang cukup mahal.

“Saya juga memberikan saran kepada mereka (masyarakat) kalau biaya berobat itu mahal dan tergantung penyakitnya. Namun bukan berarti tidak bisa berobat dengan cara menggunakan BPJS Kesehatan,” ungkapnya.

Sebagai anggota Dewan pihaknya sangat berharap sekali pelayanan di RSDH khususnya agar lebih ditingkatkan lagi. “Saya minta pelayanan di RSDH ini lebih ditingkatkan lagi. Jadi jangan sampai ada lagi keluhan masyarakat kesulitan berobat dengan menggunakan BPJS Kesehatan,” katanya.

Sementara itu, Direktur RSDH dr Renita mengatakan jika pihaknya belum mengetahui persis jika ada dokternya yang mengatakan kalau pengguna BPJS itu ada batasan. Namun menurutnya, memang ada persyaratan tapi bukan pihak rumah sakit yang mengeluarkan aturan tersebut melainkan dari BPJS Kesehatan itu sendiri.

“Akan tetapi kalau secara ke gawat daruratan bagi pasien BPJS yang harus ditangani, dan saya tidak mau ini menjadikan jawaban satu pihak. Yang pasti akan saya tanyakan dahulu ke dokter yang bersangkutan, betul tidaknya memulangkan pasien dengan alasan batas maksimal pengguna BPJS,” katanya.

Di samping itu, Direktur RSDH Cianjur dr Renita mengaku kesulitan untuk bertemu dengan pihak keluarga almarhumah Fadilah Ramawindani. Menurutnya, hal tersebut akibat ada pihak-pihak yang ingin memanfaatkan situasi dengan adanya kasus praduga malaparktik di RSDH.

Pihaknya merasa adanya miskomunikasi dengan pihak keluarga korban. Menurutnya, selama ini pihaknya berupaya untuk menempuh secara kekeluargaan, namun berhubung timbulnya pihak-pihak lain sehingga menyulitkan niatannya untuk menemui pihak keluarga korban.

“Sebenarnya ini hanya miskomunikasi saja, dan kalau sudah ketemu langsung seperti ini kita bisa mendengar langsung keluhan ibu Ai Rahmawati,” kata dr Renita.

Menanggapi adanya dugaan malapraktik yang dilakukan oleh salah satu dokter spesialis ahli bedah, Renita mengaku belum bisa berkomentar terlalu jauh. Pasalnya, untuk membuktikan semua itu harus dilakukan beberapa tahapan dari para ahli.

“Kami belum bisa menafsirkan bahwa yang dilakukan dokter kami itu malapraktik. Bahkan seorang penyidik dari kepolisian pun tidak bisa memvonisnya karena harus didukung dengan pembuktian yang kongkrit,” kata dia.

Renita mengatakan, pihaknya akan terus berupaya melakukan komunikasi dengan pihak keluarga pasien untuk mencoba mengambil jalur secara kekeluargaan, meskipun kontek pelaporan ke pihak kepolisian masih tetap berlanjut.

“Saya rasa kasus seperti ini jangan lagi sampai terulang di RSDH maupun di rumah sakit yang ada di Kabupaten Cianjur ini. Dan ini kita jadikan pembelajaran agar tidak lagi ada kejadian yang serupa,” ujarnya.

Ibunda almarhumah Fadilah Rahmawindani, Ai Rahmawati menuturkan, masih merasa kesal kepada dokter yang menangani operasi di RSDH Cianjur pada beberapa waktu lalu. Menurutnya, hingga saat ini dirinya masih terngiang akan perlakuan dan sikap dari seorang dokter Randy ketika berkomunikasi dengannya waktu di RSDH.

“Masih sakit hati saya ini, sampai kapan pun tak akan terobati. Apalagi tutur bahasa seorang dokter yang katanya pendidikannya tinggi tapi sama sekali tidak ada sopan santunnya,” kata Ai.

Ai mengatakan, dirinya belum bisa memaafkan atas apa yang dilakukannya kepada anaknya (Fadilah) karena operasi yang ditanganinya itu. “Kalau berbicara nominal, anak saya tidak bisa dibayar dengan harga Rp 1 miliar sekalipun. Dan saya tetap mau minta pertanggungjawaban dari dokter itu,” tandasnya.(yis/red)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.