Rayakan OTT Bupati, Ribuan Warga Padati Alun-Alun

Sambil Makan Nasi Liwet, Warga Minta Simbol Cianjur Jago di Hapus

0 124

CIANJUR – Ribuan warga Cianjur dari berbagai wilayah padati kawasan alun-alun Masjid Agung Cianjur,Jumat (14/12). Kedatangan ribuan warga tersebut sebagai bentuk syukur atas Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Bupati Cianjur Irvan Rivano Muchtar.

Seperti diketahui Bupati Cianjur itu terkena OTT KPK yang digelar pada Rabu, 12 Desember 2018. Bupati Irvan diduga memangkas Dana Alokasi Khusus (DAK) Pendidikan. Dari total anggaran itu senilai Rp 46,8 miliar, Irvan memotong 14,5 persen untuk dibagi-bagi ke anak buahnya dan 7 persen atau sekitar Rp 3,2 miliar untuk dirinya sendiri.

Selain Irvan, dua pejabat dilingkungan Dinas Pendidikan juga masuk dalam OTT. Keduanya yang sudah menjadi tersangka yakni Cecep Sobandi (Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan), Rosidin (Kabid SMP) serta kakak ipar Irvan Tubagus Cepy Sethiady.

Berdasarkan pantauan Cianjur Ekspres, ribuan warga yang berkumpul di alun-alun depan Masjid Agung Cianjur itu nampak diantaranya sambil membawa kastrol nasi liwet. Mereka sengaja sebagai bentuk syukur dan ingin makan liwet bersama-sama.

Warga sempat kesal, saat akan masuk ke lingkungan pendopo di halang-halangi oleh petugas Satpol PP. Karena jumlah warga semakin banyak, akhirnya petugas tidak bisa melarang. Warga menerobos masuk dengan membuka pembatas seng.

Setelah masuk kawasan Pendopo, warga langsung menuju kandang ayam jago dan melepaskannya sebagai simbol kekesalan terhadap Bupati Cianjur, Irvan Rivano Muchtar yang terken OTT KPK berikut barang bukti uang senilai Rp 1,5 miliar.

Selanjutnya warga pun langsung mendekati kantor Pendopo dan berhadap-hadapan dengan Satpol PP yang berjaga. Warga pun menyampaikan aspirasinya sebagai bentuk kekesalan terhadap Bupati Cianjur dan mereka menginginkan simbol Cianjur Jago di ganti.

Gerakan Masyarakat anti Korupsi, Asep Suharti mengatakan, Cianjur bisa bersih dari korupsi jika para pejabat pemerintah dan masyarakat mempunyai komitmen yang kuat. Menurutnya kalau Cianjur di pimpin oleh pemimpin yang mempunyai niat ikhlas, bisa mewujudkan Cianjur yang bersih dari Korupsi.

“Kami harap untuk sekarang Pak Herman (wabub) bisa melakukan berbagai perombakan dan perubahan termasuk program yang hari ini sudah ada itu coba di rombak ke arah yang lebih bersih. Bagaimana menciptakan birokrasi yang bersih, yang tidak hanya sebatas kata-kata tetapi masuk ke dalam subtantif realita program,” katanya.

Misalkan, lanjut dia, menciptakan program bebas korupsi di setiap dinas, pembersihan suap mutasi dan rotasi jabatan, pembersihan bagaimana perizinan dan lainnya. “Pertama suap mutasi rotasi yang indikasinya memang katanya masih ada, yang ke dua suap perizinan. Misalkan bagaimana nanti pak Herman memimpin Kabupaten Cianjur ke arah yang lebih baik, agar hal ini bisa bersih tentu dengan berbagai program stakeholder dan melibatkan masyarakat,” katanya.

Tokoh masyarakat Cianjur, Dodi Suryadi menambahkan, menurutnya warga yang memaksa masuk ke kawasan Pendopo Cianjur di luar prediksi memang tidak direncanakan dan memang secara spontanitas.

“Dan sudah jelas bahwa bupati melakukan korupsi, pemungutan-pemungutan terhadap uang masyarakat yang digunakan untuk kepentingan kemenangan mereka, tetapi Allah SWT maha adil, perjalanan ternyata maksud dia ingin dinasti ini terus berjalan, namun takdir berbicara lain,” katanya.

Di tempat yang sama, Dodi Suryadi, tokoh masyarakat Cianjur, menyebut berkumpulnya ribuan warga Cianjur itu sebagai salah satu bentuk kemarahan dengan kebijakan bupati yang menurutnya bagian dinasti.

“Ini klimaks kemarahan masyarakat yang menganggap rezim ini adalah rezim dinasti, dari mulai ayahnya Tjetjep Muchtar Saleh kemudian diteruskan oleh putranya IRM. Mereka banyak melakukan kebijakan yang terindikasi korupsi, pemungutan-pemungutan uang masyarakat untuk kepentingan mereka,” ujar Dodi.

Firman (35) seorang warga yang hadir dalam kesempatan itu mengaku sengaja datang sebagai bentuk kepedulian dengan sesama warga lainnya. “Saya sengaja datang, selain ingin ikut makan nasi liwet, saya juga mengapresiasi tindakan KPK yang menangkap dan menetapkan bupati sebagai tersangka kasus pungutan dana pendidikan,” katanya.

Pihaknya berharap, kasus bupati ini bisa mengungkap kasus lainnya yang mungkin jauh lebih besar. “Mudah-mudahan KPK bisa mengungkap kasus lainnya di Cianjur yang sepertinya sudah menjadi rahasia umum. Mungkin saja tidak hanya di pendidikan, biar KPK yang mengusutnya,” pungkasnya. (job3/sri)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.