Akibat Banjir Bandang, Ribuan Warga Terisolir

0 34

CIANJUR – Jembatan gantung penghubung antardesa di Kecamatan Cidaun putus akibat diterjang air bah. Akibatnya, aktivitas ribuan warga dan ratusan anak usia sekolah terhambat, sementara jalan alternatif lain harus ditempuh dengan waktu yang cukup lama.

Rahmat (54) warga sekitar, mengatakan, putusnya jembatan penghubung antar-Desa Neglasari dan Gelarpawitan itu terjadi ketika hujan turun deras menyebakan meluapnya Sungai Cidamar yang membentang di bawah jembatan.

“Air sungai yang meluap dengan arus yang deras menghantam jembatan gantung hingga putus. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun aktivitas warga khususnya anak sekolah terganggu,” kata dia kepada wartawan saat dihubungi melalui telepon seluler, Selasa (4/12).

Kepala Desa Gelarpawitan Kecamatan Cidaun, Alih Sutisna, mengatakan, jembatan Gantung Cisarakan yang menghubungkan Desa Gelarpawitan antar-Desa Negalsari menjadi sarana untuk aktivitas sebanyak 5.000 jiwa warga. Bahkan yang paling utama anak-anak sekolah yang seharusnya sekolah jadi tidak sekolah, karena tidak ada jalan lain untuk menuju tempat sekolahnya.

“Kami hanya berharap dinas terkait di Pemkab Cianjur, segera memperbaiki jembatan yang putus agar ratusan kepala keluarga tidak terisolir,” kata dia.

Di sisi lain, hujan deras juga membuat Sungai Cidamar dan Cidaun, meluap. Hal itu membuat puluhan rumah milik warga di beberapa kampung di Kecamatan Cidaun terendam banjir setinggi dada orang dewasa.

Rosita (25), salah seorang warga menuturkan, luapan air sungai sempat merendam perkampungan hingga 3 jam, sehingga sebagian besar warga mengungsi ke tempat aman guna menghindari hal yang tidak diinginkan.

“Tercatat sekitar 50 rumah di 3 kampung terendam banjir akibat meluapnya kedua sungai yang membentang di wilayah tersebut dan tiga warung milik warga rusak,” kata dia.

Menjelang siang warga masih bertahan di pengungsian karena takut hujan kembali turun deras dan air sungai meluap kembali merendam perkampungan.

Banjir juga merendam puluhan hektar areal pesawahan di lima kampung seperti Kampung Babakan, Bobojong, Sukamaju, Jogjogan dan Kampung Girang. “Setiap tahun wilayah Cidaun merupakan langanan banjir akibat meluapnya sejumlah sungai.
Harapan kami ada pengerukan sungai yang mengalami pendangkalan,” katanya.

Di samping itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur melakukan rapat koordinasi penanganan bencana antar intansi dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Sekertaris BPBD Cianjur, Sugeng Supryatno, mengatakan rapat penangulangan bencana dengan koordinasi untuk memperkuat sinegritas antar intansi dan OPD dalam penanganan bencana.

“Sesuai dengan keinginan bupati bahwa BPBD sekarang bukan hanya sekedar bertugas dalam penanganan tetapi mengupayaan dalam pencegahan,” katanya kepada wartawan, Selasa (4/12).

Dia menjelaskan, kegiatan tersebut juga sebagai upaya mengsingkorninsasikan dalam penangangan kebencanaan karena bukan hanya tugas BPBD tapi berkaitan dengan intansi yang lainnya, sehingga kebencanaan dapat diminimalisir.

“Tidak hanya menjadi tugas BPBD tapi intansi dan OPD terkaitpun harus terlibat, sehingga Pengurangan Resiko Bencana (PRD) dapat berjalan dengan maksimal,” katanya.

BPBD tidak dapat bekerja sendiri saat melakukan pengangulangan maupun dalam pencegahan karena harus berkaitan dengan intansi yang lainya untuk meminalisir korban jiwa maupun materil.

“Seperti lahan persawahan yang tergenang berkaitan dengan dinas pertanina, jembatan yang putus atau rubuh bersama dinas PUPR sama halnya dengan yang lain,” katanya.

Pihaknya saat ini tengah mengupayakan sosialisasi, simulasi dan mitigasi kebencanaan pada warga agar sigap ketika saat terjadi bencana. “Hasil rapat koordinasi bersama intansi terkait dalam pencegahan kebencanaan ini, merupakan upaya untuk membetuk satgas dan tim reaksi cepat dari intansi terkait,” kata dia. (bay/red)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.