Diduga Malapraktik, dr Randy Dipolisikan

Perut Fadilah Membengkak Usai Operasi Usus Buntu di RSDH

0 1.579

CIANJUR – Fadilah Rahmawindani, 16, diduga menjadi korban malapraktik di Rumah Sakit Dr Hafiz (RSDH) di Jalan Pramuka, Desa Sukamulya, Kecamatan Karangtengah, belum lama ini. Saat ini, kondisi korban semakin memburuk setelah menjalani operasi usus buntu di rumah sakit swasta tersebut.

Berdasarkan keterangan, Fadilah datang ke poli bedah RSDH pada 10 Oktober 2018 berdasarkan rujukan dari Puskesmas Cugenang. Setelah menjalani pemeriksaan oleh dokter spesialis bedah, dr Randy Sebastian, harus dilakukan operasi karena nyeri pada perut pasien tak kunjung hilang setelah 5 sampai 7 hari menjalani terapi obat.

Lantas, pada 17 Oktober 2018 pasien menjalani operasi usus buntu setelah ada persetujuan dari pihak keluarga. Lalu pasien menjalani perawatan inap selama 3 hari, dan setelah itu diperbolehkan pulang oleh pihak RSDH karena kondisi pasien sudah dinyatakan membaik.

“Tetapi setelah pulang, perut anak saya malah membengkak dan mengalami diare akut,” kata Ai Rahmawati, ibu Fadilah, kepada Cianjur Ekspres, Rabu (28/11).
Lantaran khawatir, Ai membawa kembali anaknya ke RSDH pada 21 Oktober dan menjalani perawatan selama 11 hari. Namun, selama itu tidak ada perkembangan pada kondisi Fadilah.

“Lalu kami pulang. Alesannya, peserta BPJS Kesehatan tidak boleh lebih dari dua kali dalam satu bulan,” ungkapnya.

Ai menceritakan, sebelumnya Fadilah sering mengalami sakit di bagian perut dan memang punya riwayat sakit maag. Selain itu, ia pun pernah membawa anaknya berobat ke puskemas dan RSUD Cianjur dan divonis sakit usus buntu. Ai mengatakan, setelah dilakukan operasi usus buntu di RSDH Fadilah mengalami sakit yang hebat bahkan hingga ke pembengkakan di bagian perut.

“Waktu itu operasinya pada Rabu di bulan Oktober, setelah 3 hari menjalani perawatan anak saya disuruh pulang ke rumah. Tapi setelah pulang anak saya mengalami diare hebat, bahkan hingga terjadi pembengkakan di bagian perutnya,” terang Ai.

Tak ingin terjadi apa-apa kepada Fadilah kembali dibawa ke RSDH dan sempat dirawat selama 11 hari. Namun menurutnya, tak sedikitpun ada perubahan malah dengan kondisi yang cukup parah anaknya itu malah tambah parah.

“Pulang dari RSDH, saya langsung bawa anak saya ke RSUD Cianjur. Ternyata setelah diperiksa sama dr Tomas, katanya anak saya mengalami infeksi di bagian perut sehingga harus di operasi ulang. Setelah dilakukan operasi ulang, ternyata di dalam perut anak saya itu banyak sekali nanah yang bau dan terdapat kotoran dan usus besarnya pun dipotong,” kata dia.

Dia menjelaskan, saat ini anaknya masih tetap terbaring lemah di ruang ICU nomor 4 RSUD Cianjur. Merasa tak bisa berbuat banyak, Ai pun mencoba untuk meminta bantuan hukum terkait anaknya yang diduga menjadi bahan percobaan tersebut.

“Sekarang saya serahkan sepenuhnya ke kuasa hukum kami, bagaimana caranya agar pihak RSDH dan dokter yang menanganinya mau bertanggung jawab,” kata dia.
Menurutnya, Fadilah sebelum dilakukan operasi usus buntu merupakan anak yang periang. Selain itu Fadilah juga kondisinya masih sekolah di pesantren di wilayah Kecamatan Pacet.

Kuasa Hukum Keluarga Fadilah Rahmawindani, Asep Sunanjar menjelaskan, jika pihaknya berusaha untuk membantu kliennya yang memang tertindas atas apa yang sudah dilakukan oleh pihak RSDH pada beberapa waktu ke belakang. Asep menjelaskan bahwa pada 17 Oktober pasien yang bernama Fadilah sempat dibawa berobat ke Puskemas Cugenang, dan dirujuk ke RSDH dengan menggunakan BPJS Kesehatan kelas III.

Berdasarkan keterangan yang ia dapat pihaknya mencoba untuk melakukan mediasi dengan pihak RSDH, dan meminta pertanggungjawaban baik secara moral maupun finansial akibat dari dugaan malpraktek yang dilakukan pihak RSDH melalui dr Randy.

“Mediasi itu datelocke, karena permintaan dari korban ditolak mentah-menta oleh pihak RSDH yang alasannya katanya apa yang dilakukannya itu sudah memenuhi SOP,” katanya.

Asep mengatakan, langkah selanjutnya sebagai kuasa hukum pihaknya akan menempuh dengan jalur hukum yang berlaku dan akan melaporkannya ke pihak kepolisian.
“Karena tidak ada itikad baik dari pihak RSDH, maka kami akan melaporkan ke Polres Cianjur,” katanya.

Sementara itu, pihak RSDH Bagian SDM, Santi, mengatakan, terkait pasien yang bernama Fadilah Rahmawindani, pihaknya tidak bisa komentar. Menurutnya, hal tersebut sebelumnya harus ada janji dengan cara mengirim surat terlebih dahulu ke pihak RSDH dan nantinya akan ditembuskan ke direktur atau ke bagian yang berwenang untuk berbicara.

“Mohon maaf pak untuk yang satu ini kita no comen, karena kapasitasnya di bagian SDM,” tandansya.(yis/red)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.