Ratusan Ekor Anjing Liar ‘Dilenyapkan’

Tahun 2015 Tiga Orang Meninggal Akibat Digigit Anjing

0 26

CIANJUR – Sebanyak 700 ekor anjing liar dieliminasi atau dimatikan selama periode Januari-November 2018. Program yang dilakukan untuk mengejar target Cianjur bebas rabies tersebut banyak dilakukan di wilayah perbatasan dengan daerah lain, khususnya di Cianjur selatan dengan Garut dan Sukabumi.

Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyrakat Veteriner Dinas Peternakan Kabupaten Cianjur, Agung Rianto mengatakan, jumlah anjing liar yang dieliminasi di tahun ini lebih sedikit dibandingkan sebelumnya, dimana pada 2017 berkisar di angka 1.000 ekor.

Sementara itu, untuk periode 2014-2016 dinas peternakan tercatat mengeliminasi 2.771 ekor hewan yang terjangkit rabies.

“Cenderung lebih sedikit, apalagi untuk tahun ini. Karena metode eliminasi yang digunakan tidak seperti sebelumnya,” kata Agung kepada Cianjur Ekspres, saat dihubungi melalui telepon seluler, Rabu (28/11).

Dia menjelaskan, jika sebelumnya metode eliminasi dilakukan dengan cara memberi racun melalui makanan yang diberikan kepada anjing liar. Namun kali ini anjing liar dibius kemudian dimatikan oleh petugas. Hal itu membuat prosesnya lama dan membutuhkan biaya yang lebih besar.

“Sebenarnya ini bukan berdasarkan aturan untuk eliminasi, tapi rekomendasi dari para pecinta binatang. Meracun dinilai terlalu kejam, sehingga lebih baik dibius kemudian dimatikan petugas,” kata dia.

Menurutnya, eliminasi anjing liar terutama yang terindikasi rabies tersebut dilakukan untuk mengejar target Cianjur bebas rabies. Apalagi Cianjur menjadi salah satu daerah yang masuk dalam lingkaran daerah yang disoroti Pemprov untuk menyukseskan Jawa Barat bebas rabies.

Meskipun Cianjur tidak memiliki banyak riwayat gigitan rabies, namun berdekatannya Kota Tauco dengan Sukabumi dan Garut membuatnya masuk ke ring tersebut.

Dia menuturkan, di Cianjur terakhir kali terjadi gigitan anjing rabies pada 2016 lalu dimana 20 orang digigit namun tak ada yang meninggal. Sedangkan pada 2015 ada 13 orang yang digigit dan tiga di antaranya meninggal dunia.

“Sebenarnya kalau dilihat dari riawayatnya hanya sedikit, bahkan sejak 2017 lalu sudah tidak ada kasus gigitan dari anjing yang terjangkit rabies. Tetapi kami terus jalankan program untuk menyukseskan Jawa Barat bebas rabies pada beberapa tahun ke depan,” ungkapnya.

Agung menambahkan, pihaknya saat ini gencar melakukan sosialisasi dan pengenalan mengenai rabies ke setiap pelajar, terutama di tingkat SD dan SMP. Hal itu dilakukan supaya mereka lebih waspada terhadap rabies, termasuk bisa melakukan pertolongan pertama pada korban gigitan.

“Pekan ini kami ke Takokak dan Pacet untuk sosialisasi bahaya rabies. Pelajar diberi wawasan terkait rabies. Termasuk penangan pertamanya pada korban gigitan. Diharapkan mereka lebih waspada dan segera melaporkan jika ada anjing liar yang terindikasi rabies,” pungkasnya.(bay/sri)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.