Tekhnologi Pertanian Ramah Lingkungan Mulai Diperkenalkan

0 39

CIANJUR, cianjurekspres.net – DPW Komite Peduli Lingkungan Hidup (KPLHI), bekerjasama dengan Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) Segunung Ciherang Pacet, Cianjur, mulai mengpalikasikan tekhnologi produksi pupuk ramah lingkungan. Upaya ini bertujuan untuk menekan tingkat pencemaran tanah.

Ketua KPLHI Kabupaten Cianjur, Hendy Zaeni, menjelaskan, bahwa saat ini penerapan sistem pertanian yang mengutamakan penggunaan pestisida dan pupuk kimia masih sangat melekat pada model pertanian kita, padahal peningkatan produksi dengan penggunaan bahan-bahan tersebut hanya bersifat sementara, sedangkan dampak negatifnya sangat besar karena menyebabkan kerusakan pada sifat fisik, kimia dan biologi tanah.

“Makanya dalam rangka mengaplikasikan ilmu teknologi pertanian ramah lingkungan tersebut, kami sengaja mengajak siswa-siswi didiknya dari SMK Wira Dharma Persada, untuk menjadi peserta bimtek produksi pupuk ramah lingkungan,” katanya belum lama ini.

Diharapkan langkah ini bisa mengurangi pencemaran bidang agrobisnis pengolahan hasil pertanian. Selain itu para pelajar diharapkan bisa menyerap ilmu yang diterima selama pelatihan.

“Materi yang diberikan berupa teknologi pembuatan pupuk hayati/biopestisida dan penanggulangan hama utama pada tanaman hortikultura. Ini sangat penting demi mewujudkan konsep pertanian yang ramah lingkungan,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Toriqul Arifin Budiman, didampingi Kepsek SMK Wira Dharma, Sofyan, menjelaskan, kerja sama dengan balai penelitian tanaman hias ini, bertujuan untuk mendapat pengetahuan lebih luas tentang teknologi ramah lingkungan. Nantinya diharapkan mereka bisa mengaplikasikan di lapangan.

“Ilmu ini bisa diterapkan baik untuk kepentingan pribadi ataupun komersial. Karena selama ini masih banyak petani yang masih menggunakan pestisida maupun pupuk kimia lainnya, yang bisa menyebabkan kerusakan jangka panjang bagi tanah,” ujarnya.

Ditambahkanya, hasil bimtek ini sangat bermanfaat sekali dan konsep seperti ini baru sekolahnya saja yang ikut pelatihan. Sehingga ini bisa menjadi proyek percontohan, karena sekolah lain belum mengikuti.

“Kebun kami banyak di Sukaresmi dan ini bisa menjadi pilot project di lapangan. Upaya ini semoga bisa mewujudkan konsep pertanian yang aman karena bebas dari kimia dan tidak menyebabkan terjadinya pencemaran,” pungkasnya. (mg2/yhi)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.