Guru Honorer Masih Berpenghasilan Sangat Rendah

0 133

CIANJUR – Forum Guru Honorer menyebutkan sebagian besar guru honorer di Kabupaten Cianjur berpenghasilan sangat rendah. Bahkan tidak sedikit yang hanya mendapatkan pendapatan di bawah Rp 500 ribu per bulan.

Ketua Forum Honorer Kabupaten Cianjur, Magfur, mengatkan, guru honorer di tingkat SD dan SMP hanya mengandalkan pendapatan dari dana sekolah. Jadi besaran penghasilan tergantung pada anggaran belanja sekolah dimana mereka mengabdi.

“Memang tidak bisa ditentukan, karena tak ada standarnya. Tergantung berapa kebijakan sekolah untuk dana tenaga honorer. Kalau sekolah yang muridnya banyak bisa Rp 1 juta, sementara yang sedikit itu bahkan bisa di bawah Rp 500 ribu per bulan,” kata dia saat dihubungi melalui telepon seluler, Senin (25/11).

Namun, menurutnya, kebanyakan dari para guru tersebut berpendapatan rendah. Terutama sekolah yang memiliki guru honorer lebih banyak dibandingkan PNS.

“Apalagi kalau di satu sekolah itu hanya ada satu PNS dan selebihnya honorer, tentu anggaran sekolah yang tersedia untuk tenaga hororer harus dibagi. Dan itu tidak sedikit, ada banyak sekolah yang banyak haya ada satu PNS dan selebihnya honorer,” kata dia.

Dia mengakui jika profesi guru merupakan pengabdian, dimana mereka punya kewajiban untuk mencerdaskan generasi ke depan. Namun pemerintah juga harus memberikan perhatian dan kesejahteraan bagi para guru tersebut.

Magfur pun berharap, momentum peringatan harus guru menjadi titik pemerintah sadar untuk bisa menyejahterakan tenaga guru, terutama honorer. Mengingat peran honorer pun penting untuk keberlangsungan proses belajar mengajar.

“Kami berharap momentum hari guru ini guru bisa sejahtera ke depannya. Pengabdian untuk mencetak generasi yang cerdas bisa diperhatikan dan mendapatkan kesejahteraan,” pungkasnya.

Yuyus Sugilar, guru honorer di SDN Binaraharaja Cibeber, mengaku, nasibnya hanya mengisahkan duka soal kesejahteraan guru honorer. Terkadang jam mengajar lebih banyak dari pada guru PNS, tapi untuk upah yang diterima jauh dari kata cukup banding mereka.

“Jujur, kami walau honorer juga ingin mendapatkan perlakuan yang sama dari pemerintah,” ujarnya kepada Cianjur Ekspres, kemarin.

Namun demikian, Yuyus mengaku memilih bertahan menjadi guru walau hanya guru honorer, karena panggilan hati dan mengajar itu sebuah amanah baginya.

“Sangat bahagia rasanya bisa membagikan apa yang kami miliki kepada anak didik. Goyunan dan tawa mereka membuat saya ingin terus berada di profesi ini,” ujar Yuyus guru honor yang mengabdi lebih dari 15 tahun ini.

Nasib sama juga dirasakan Muklis, 39. Masih banyak kesenjangan terjadi antara guru honorer dan PNS, padahal secara kualitas cara mengajar dan akademi sama.

“Jangankan tunjangan, saya telah mengajar selama 10 tahun lebih tapi nasib keberlangsungan saya tidak menentu, apa ada nasib saya untuk diangkat jadi guru PNS,” katanya.

Padahal, menurutnya kalau bicara tangung jawab sama. Saat ditanya mengenai upah yang diterima, dirinya mengaku sekarang mendapatkan Rp 750 ribu per triwulan.

“Gaji dari BOS per triwulan dapat Rp 750 ribu, tapi kalau ada tambahan kerja kita dapat tambahan juga, walau di bawah UMP kita masih bersyukur,” ujarnya.

Yang jelas di Hari Guru Nasional (HGN) ini guru honorer meletakan harapan kepada pemerintah agar kami kami ini lebih diutamakan, lebih lagi bisa diangkat jadi PNS.

“Ya itung-itung sebagai bukti pemerintah menghargai atas kontribusi dan jasa kami dalam upaya mencerdaskan kehidupan anak bangsa,” tutupnya.(bay/zen/red)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.