PT MPM Tegaskan Tidak Ada Eksekusi Lahan

0 140

CIANJUR – Kuasa Hukum PT Maskapai Perkebunan Moelia (MPM) Ariano Sitorus BAC, menegaskan bahwa tidak ada eksekusi lahan yang dilakukan oleh PT MPM di Desa Batulawang, Kecamatan Cipanas. Namun PT MPM ingin melakukan penataan ulang terhadap orang-orang yang telah mengganggu keberadaan perkebunan hak guna usaha HGU milik PT MPM.

“Saya tegaskan, PT MPM tidak ada kegiatan eksekusi. Tapi kami hanya ingin kembali menata perkebunan tersebut dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab,” ungkap Ariano kepada wartawan, saat ditemui di Kantor PT MPM di Jalan Ciseureuh Desa Batulawang, belum lama ini.

Ariano mengungkapkan, saat ini banyak sekali petani yang mengaku-ngaku petani, namun pada kenyataannya hanya ingin menguasai lahan milik PT MPM. “Tidak permasalahan antara MPM dengan masyarakat. Namun kami akan mempermasalahkan bagi masyarakat yang datang dari luar yang sengaja masuk ke lahan MPM dan ingin menguasainya,” kata Ariano.

Ariano mengatakan, ada beberapa biong-biong yang berusaha mencari kesempatan dan memanfaatkan untuk menjual sebagian lahan HGU PT MPM. Sasaran penjualan lahan ini juga kepada masyarakat yang notabene si pembelinya sendiri mengerti akan hukum, namun tetap mau menerimanya. Padahal lahan tersebut jelas milik PT MPM.

“Saya sangat menyesalkan itu, dan saat ini juga MPM akan kembali berbenah dan menata kembali lahan tersebut peruntukan kebun teh. Dan kami juga akan mencari siapa orangnya yang berani berbuat hingga sedemikian,” katanya.

Dia menduga kuat ada petani-petani berdasi yang mencoba untuk merampas lahan HGU PT MPM tersebut. Tak hanya itu, Ariano pun menyinggung keberadaan sekelompok warga yang saat ini telah merampas tanah HGU kurang lebih seluas 100 Hektar.

“Saya rasa, kalau sekelompok orang itu mau beritikad baik, datang secara baik-baik ke PT MPM, maka bukan tidak mungkin akan memberikan apa yang dibutuhkannya. Namun tidak dengan cara ingin menguasai lahan tersebut,” katanya.

Ariano yang juga sebagai Kuasa Hukum dari PT MPM sangat menyayangkan keberadaan sekelompok orang tersebut. Karena menurutnya, cara yang dilakukannya ingin menguasai dan merampas sebagian lahan HGU milik PT MPM tersebut melibatkan masyarakat yang tidak memahami hukum tentang pertanahan.

“Ketika saya bertanya kepada salah satu petani di lahan HGU tersebut, mereka mengatakan, bahwa lahan tersebut milik kelompok orang yang tak bertanggung jawab. Jadi saya rasa tidak masuk akal, padahal sudah sangat jelas di sini adalah yang berhak hanya PT MPM,” terang Ariano.

Sebagai perusahaan perkebunan, lanjut Ariano, kalau untuk urusan sosial maka pihaknya tetap akan memperhitungkannya. Saat ini di sekitaran PT MPM saja ada bangunan masjid dan selama itu kalau untuk kebaikan kenapa tidak.

“Selain ingin merampas lahan milik PT MPM, juga mereka itu mendirikan bangunan di tengah perkebunan dengan semi permanen, dan ada beberapa basecamp juga. Jadi ada apa ini semua?,” terang Ariano.

Menurut Ariano, atas dasar hukum pihaknya sebagai perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan akan meminta perlindungan secara hukum kepada instansi yang ada di Kabupaten Cianjur ini. “Jadi kami akan terus berupaya untuk mempertahankan haknya PT MPM ini,” katanya.

Dia mengatakan, hingga saat ini PT MPM tidak merasa lahan HGU-nya itu digarap atau dikuasai oleh segelintir orang yang tak bertanggung jawab tersebut. Akan tetapi, menurut Ariano lahan MPM saat ini sudah mulai dirampas oleh orang yang tak bertanggung jawab dan atau ulah para biong tersebut.

“Perlu diketahui, tanah yang dimiliki oleh PT MPM ini kurang lebih ada 1.020 Hektar. Jadi ada sebagian kecil yang sudah dirampas oleh orang tak bertanggungg jawab. Dan kita akan mengambil alih semua itu dengan cara penataan ulang,” ujarnya.

Adapun bagi mereka yang sudah membangun berada di atas lahan HGU milik MPM mau tidak mau harus dirobohkan terkecuali kalau mempunyai izin resmi. “Ada beberapa bangunan yang permanen dan semi permanen itu akan kami pertanyakan ke lengkapan izinnya mulai dari IMB dan izin ke PT MPM,” terang Ariano.

Ariano juga mengatakan, saat ini pihaknya terus melakukan dan bersosialisasi dengan para petani dan warga sekitar untuk mengajak dan bergabung dengan MPM selama belum kembali di gunakan oleh PT MPM, dengan begitu bisa tertata rapih secara administratif.

“Kami juga tengah berupaya memasang papan pengumuman di setiap titik perbatasan lahan HGU milik PT MPM, dengan begitu masyarakat pun diharapkan bisa memahaminya,” tandasnya.

Eko salah satu penggarap di lahan HGU Blok Galuguk mengaku jika dirinya bercocok tanam di lahan HGU milik PT MPM tersebut sudah sejak lama. “Yang saya tahu, lahan yang saya garap itu sebelumnya sangat garung dan seperti terlantar. Lalu saya mencoba untuk membersihkan dan bercocok tanam,” ujar Eko, saat dihubungi Cianjur Ekspres.

Eko mengaku tidak tahu persis akan ada penataan ulang dari PT MPM. Namun jika benar adanya, Eko sangat berharap ada uang pengganti dari MPM. Sebab, saat ini lahan yang dulunya sempat garung itu kini sudah bersih dan dijadikan lahan untuk bercocok tanam.

“Saya malah baru tahu kalau ada penataan yang dilakukan oleh pihak PT MPM, lahan saya tidak jauh dengan rumah Poktan Membumi. Saya berharap ada uang pengganti dari PT MPM,” tutupnya.(yis/red)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.