Guru Sejahtera, Islam Solusinya

Oleh: Yanti Rismayanti, S.TP (Praktisi Pendidikan)

0 49

SETENGAH hati negara menyelesaikan masalah guru honorer ini, bahkan semakin tampak jelas pengabaiannya. Hal ini terlihat pada tidak pedulinya penguasa terhadap nasib dan tuntutan mereka. Aksi para guru honorer K2 melakukan unjuk rasa sampai menginap di jalanan seberang Istana harus berakhir sia-sia. Presiden Joko Widodo cuek dan enggan menghadapi aksi demonstrasi yang diklaim diikuti 70.000 guru honorer itu. (https://www.nasional.kompas.com/read/2018/11/02/10014031/demo-guru-honorer-respons-cuek)

Meski sedang menyusun peraturan pemerintah terkait skema penyelesaian kasus ini, namun skema tersebut tidak memuaskan para guru. Pengabdian yang mereka berikan bertahun-tahun seakan tidak ada nilainya untuk sekedar diganti dengan pengangkatan mereka sebagai ASN.

Keterbatasan anggaran menjadi pertimbangan pemerintah dalam menetapkan tiga skema tersebut. Yanuar menyebut contoh pengangkatan 438.590 orang Tenaga Honorer Kategori-2 (THK-2) menjadi CPNS secara langsung tanpa ada tes, berpotensi konsekuensi anggaran sebesar Rp 36 triliun per tahun. Angka itu belum termasuk dana pensiun. (https://www.liputan6.com/news/read/3683143/3-alternatif-pemerintah-soal-tenaga-honorer) Ini bukti bahwa betapa negara di satu pihak menghendaki kerja keras dan profesionalisme para guru, namun di pihak lain penghargaan sangat minim diberikan kepada mereka yang kadung digelari ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’. Sehingga bagaimana mungkin para guru dapat berkonsentrasi mendidik murid-muridnya apabila digaji dengan sangat rendah dan mengharuskan mereka mencari tambahan penghasilan. Ini hanya satu sisi saja yang menunjukkan bobroknya sistem pendidikan kita.

Keengganan pemerintah mengangkat guru honorer sebagai ASN semakin membukakan mata kita bahwa sistem pendidikan saat ini hanya dipandang sebagai mesin pencetak ekonomi sehingga sangat memperhitungkan untung rugi. Layaknya penjual dan pembeli, majikan dan upahan. Negara berharap bidang pendidikan berkontribusi besar dalam pertumbuhan ekonomi melalui pencetakan manusia yang siap terjun ke dunia kerja. Padahal sejatinya, pendidikan adalah pusat pembentukan manusia menjadi generasi pembangun peradaban di masa depan, kaum intelektual yang mampu menjadi motor penggerak kebangkitan.

Jauh berbeda dengan sistem Kapitalisme, peran penting pendidik menjadikan mereka memiliki posisi mulia dalam Islam. Salah satunya adalah pahala yang akan senantiasa mengalir karena mengajarkan ilmu dan kebaikan pada murid-muridnya. Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari r.a., ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893).

Khalifah sebagai kepala negara Islam pun menunjukkan penghormatannya kepada profesi ini. Kesejahteraan dan gaji para pendidik sangat diperhatikan. Pembiayaannya diambil dari Baitul Maal. Kondisi ini menjadikan para pendidik fokus dengan tugasnya dan mampu bekerja sedara profesional dalam rangka membentuk manusia berkepribadian Islam dan siap terjun ke masyarakat untuk mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya.

Khalifah Umar bin Khaththab memberikan gaji pada tiga orang guru yang mengajar anak-anak masing-masing sebesar 15 dinar tiap bulan (1 dinar = 4,25 gram emas) (jika 1 dinar setara dengan 2,2 jt rupiah, maka gaji guru saat itu adalah 33 jt rupiah). Tidak hanya itu, Khalifah juga memperhatikan pendidikan anak-anak guru dan kebutuhan mereka, memperhatikan berbagai fasilitas pendidikan secara sangat memadai seperti yang terjadi pada masa Khalifah Harun al Rasyid. Pada masanya, marwah guru sangat agung sehingga diperlakukan dengan rasa hormat dan martabat tinggi. Maka tidaklah mengherankan apabila pada masa Islam lahir banyak manusia unggul yang menorehkan tinta emas mengukir sejarah kegemilangan peradaban manusia dalam naungan Islam. Wallahu a’lam

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.