Euforia Menyambut Pesta Demokrasi

Agil Muhammad Mawardi R Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung

0 3

SEPERTI kita ketahui dan kita rasakan pesta demokrasi sebentar lagi akan terjadi. Semarak pesta sudah terdengar, rivalitas sudah dimulai inilah agenda penting bangsa Indonesia 5 tahun sekali. Tentu ini menjadi hal yang paling ditunggu-tunggu oleh semuanya baik dari kalangan masyarakat ataupun dari pihak yg akan mencalonkan diri menjadi wakil rakyat.

Kampanye sudah dimulai dan berbagai cara jitu dikeluarkan agar mendapat simpatik dan dukungan dari rakyat namun sayangnya ada penyakit sosial yang telah menjangkit akut di masyarakat yaitu ‘money politik’.
Money politik sering disebut juga politik perut karena memilih berdasarkan perut bukan berdasar pada hati nurani. Namun mengapa politik perut ini marak terjadi? Mungkin karena ketidakpahaman sebagian masyarakat atas apa yang dilakukan dan apa yang terjadi padanya.

Hal itu akan berdampak besar ke depannya bahkan berdampak terhadap negara. Secara logika bagaimana mungkin mereka menjalankan tugasnya dengan baik jika terpilih dari hasil yang tidak baik? Hal yang terlihat tidak berdampak justru menjadikan keberdampakan itu dimulai. Andaikan kelak jika mereka terpilih lantas tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik siapa yang dirugikan? Kita semua pula yg akan terkena dampaknya.
Salah satu dampak buruknya adalah tercemarnya nama demokrasi sehingga tidak ada lagi masyarakat yang percaya akan sistem ini. Padahal masyarakat pulalah yang menjadi salahsatu faktor terjadinya money politik ini.

Seeloknya masyarakat sudah mulai saatnya berpikir kritis dan intelek bahwa money politik adalah salah satu jalan menuju hancurnya demokrasi negeri kita. Jangan taruhkan suaramu hanya untuk perutmu, tapi jadikan suaramu menjadi bukti bahwa andil tanpa money politik adalah gerbang menuju kesejahteraan.

Jadikan suaramu menjadi penentu bangsa Indonesia ke depannya. Perutmu hanya berdampak satu hari tapi tidak dengan suaramu. Jika tidak dihentikan sekarang kapan lagi? Jika bukan kita bersama siapa lagi yang akan membrantas penyakit ini?Akankah kita wariskan penyakit sosial ini kepada anak cucu kita? Tentu jawabannya tidak.

ari semuanya kita bergandengan. Kita ciptakan euphoria pesta demokrasi ini menjadi teduh, aman, dan sehat agar menjadi contoh untuk kita wariskan pada anak cucu kita. Selamat berpesta.(*)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.