Ikan Laut Jayanti Mulai Langka

0 111

CIANJUR, cianjurekspres.net – Nasib 2.090 nelayan di Pantai Jayanti Kecamatan Cidaun dalam kondisi mengkhawatirkan. Tak hanya hasil tangkapan yang minim, ikan yang dijajakan di pasar ikan pun didatangkan dari Jakarta dan Pantai Ujunggenteng, Kabupaten Sukabumi.

Kepala Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Jayanti, Eli Muslihat, mengatakan, jumlah nelayan yang aktif (melaut, red) terus menurun sejak 2012 lalu karena hasil tangkapan ikan terus menurun hingga 2018 lalu. “Hasil melaut tidak seperti tahun 2012 lalu, ikan di laut Jayanti melimpah.

“Kini, nasib nelayan tak sebagus tahun itu. Pada akhirnya banyak nelayan yang beralih profesi menjadi petani,” kata Eli kepada Cianjur Ekspres, belum lama ini.

Dia menjelaskan, dari data rekapitulasi nelayan tahunan Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Cianjur melalui UPTD PPI Jayanti, jumlah nelayan laut (tetap) pada 2017 sebanyak 281 orang dan 238 nelayan musiman, dan total keseluruhan jumlah nelayan sebanyak 469 orang. Sedangkan jumlah nelayan pinggir atau ampar (tetap) sebanyak 631 orang, dan nelayan ampar musiman ada 717 orang dengan total keseluruhan 1.348 nelayan ampar.

“Jumlahnya terus menurun sejak pontensi tangkapan ikan menurun. Kira-kira yang aktif hanya 50 persen saja dari jumlah total nelayan tadi,” jelasnya.

Untuk jumlah nelayan anco, kata dia, ada sebanyak 172 nelayan yang di antaranya 149 nelayan anco tetap dan 23 nelayan anco musiman. Sedangkan jumlah nelayan jodang ada sebanyak 27 orang, dan jumlah pelaku perikanan ada 74 orang.

“Jadi total keseluruhan nelayan yang ada di pantai selatan Kabupaten Cianjur ada sebanyak 2.090 orang, yang di antaranya nelayan laut, ampar, anco, nelayan jodang, dan pelaku perikanan,” bebernya.

Lebih lanjut Eli menerangkan, hasil tangkapan ikan nelayan laut rata-rata hanya 5 kilogram per hari dengan jarak melaut sekitar 1-2 kilometer hingga 2 mil dari bibir pantai. Bahkan, ada saja nelayan tak menghasilkan apa-apa saat melaut.

“Bisa dibilang hasil tangkapan ikan saat ini kritis. Bisa dibayangkan, dari 2013 sampai 2018 ini hasil tangkapan ikan hanya sekitar 60 ton saja per tahun,” ungkapnya.

Menurut dia, ikan di laut selatan Jayanti mulai langka. Ditambah, peralatan nelayan yang minim dan mesin perahu kurang dari 5 GT sehingga jarak tempuh tidak bisa lebih dari 2 mil.

“Mereka (nelayan, red) tidak punya peralatan canggih seperti di daerah-daerah lain. Melaut pun hanya mengandalkan gunung sebagai acuan jarak tempuh. Jika gunung sudah tidak kelihatan, maka nelayan harus kembali karena melewati jarak tempuh. Mereka kan cuma pakai mesin tempel (kurang dari 5 GT),” kata Eli.

Pada akhirnya, Eli menerangkan, ikan-ikan yang dijajakan di pasar ikan Jayanti itu didatangkan dari Jakarta, Ujunggenteng Sukabumi, dan Garut, bahkan ikan bawal tawar dikirim dari Waduk Jangari.

“Tentu harga ikan semakin mahal. Soalnya sekarang itu tidak ada lagi yang namanya musim ikan. Dulu, bulan Juni sampai Oktober itu bisa panen ikan. Jumlah nelayan bisa bertambah dua kali lipat,” pungkasnya.(red)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.