Mahasiswa: Kampus Bukan Untuk Lahan Bisnis!

0 81

JL PASIRGEDE RAYA – Mahasiswa Universitas Suryakencana (Unsur) Cianjur mempertanyakan keberadaan dan mekanisme parkir otomatis di universitas tersebut. Pasalnya, pihak restoran dinilai kurang berkoordinasi dan biaya parkirnya pun bakal memberatkan mahasiswa.

Salah seorang mahasiswa Unsur yang enggan disebutkan namanya, mengatakan, para mahasiswa sempat menggelar aksi unjuk rasa di depan pintu masuk Unsur untuk menyampaikan tuntutan mereka terhadap rektorat terkait keberadaan parkir otomatis.

“Ada beberapa tuntutan dari mahasiswa kepada pihak universitas. Itu disampaikan dalam aksi tadi pagi,” ujar dia kepada Cianjur Ekspres, Kamis (1/11).

Menurutnya, dari beberapa tuntutan, yang paling pokok ialah masalah kejelasan tentang mekanisme dan sistem parkir tersebut. Selain itu, para mahasiswa menolak adanya pungutan dari sistem parkir otomatis. Mengingat tarifnya dinilai akan memberatkan mahasiswa, terutama yang aktif keluar masuk area kampus.

“Kami ingin kejelasan, mekanismenya, aliran dana untuk apa, dan ternyata tidak ada asuransi di parkir tersebut. Makanya kami mempertanyakan. Apalagi biayanya ini, kalau yang bukan memberikan khusus sekali masuk itu informasinya Rp 1.000, bayangkan kalau aktif keluar masuk, bisa jadi beban nantinya,” kata dia.

Dia mengaku, menolak jika universitas dikomersialkan, karena kampus disebutnya bukan untuk lahan bisnis. Dia menambahkan, saat ini para mahasiswa masih menunggu kejelasan dari pihak universitas, termasuk berkaitan rencana penerapan pasti parkir otomatis tersebut.

“Awalnya mau hari ini (kemarin, red), tapi karena mahasiswa aksi untuk mempertanyakan sistemnya, jadi dibatalkan. Tidak tahu jadinya kapan diterapkan, kami pun akan terus menunggu jawaban dari pihak universitas,” katanya.

Sementara itu, Divisi Barang dan Jasa Koperasi Suryakancana yang juga manager Informasi Rektorat Universitas Suryakancana Cianjur, Hasbu Naim Syaddad, mengatakan, jika penertapan parkir otomatis di universitas tersebut belum akan dilakukan hingga keluar keputusan baru dari rektorat, mengingat terjadinya aksi dari segelintir mahasiswa.

“Tidak jadi diterapkan hari ini (kemarin, red), tidak tahu sampai kapan. Tergantung dari kebijakan rektorat dan jika keluar keputusan yang baru,” kata dia.

Namun dia menjelaskan, jika kebijakan adanya parkir otomatis di universitas tersebut lantaran sebelumnya seringkali terjadi kehilangan sepeda motor di lingkungan kampus. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan komunikasi dengan mahasiswa dan muncul usulan untuk dibuatkan palang pintu atau parkir otomatis.

“Dari situ kami memikirkan bagaimana canaya membuat lingkungan kampus ini aman dan nyaman. Makanya atas usulan itu kami segera cari pihak ketiga yang mau untuk mengelola, karena dari pihak universitas tidak ada perencanaan untuk pembuatan pakir otomatis, dikelola oleh koperasi,” kata dia.

Setelah terpilih salah satu pihak ketiga yang dinilai cocok, penataan lahan pun dilakukan. Bahkan di setiap kantung parkir diaspal dan dipasangi rambu hingga marka.

“Bulan lalu kami mulai jalankan sistem parkir, karena uji coba masih digratiskan. Rencananya hari ini diterapkan,” kata dia.

Sayangnya, lanjut dia, saat mulai diterapkan termasuk retribusi, segelintir mahasiswa melakukan penolakan hingga membuat mahasiswa lain pun ikut. Padahal, dia mengklaim jika sebagian besar mahasiswa sudah menyetujui dan tidak keberatan dengan biayanya.

Hasbu, menjelaskan, tarif yang dikenakan ialah Rp 1.000 untuk sepeda motor dan Rp 2.000 untuk mobil bagi yang menggunakan karcis parkir, sedangkan untuk member sebesar Rp 20 ribu per bulan atau Rp 100 ribu per semester. Jika ingin diasuransikan, pengguna layanan hanya tinggal menambah Rp 50 ribu.

“Biaya itu sudah sangat murah, bahkan di bawah nilai yang diterapkan oleh pemerintah daerah berdasarkan perda. Dana itupun nantinya digunakan untuk maintenance, operasional, dan amortisasi. Tapi akan kami coba kembali audiensi dengan para mahasiswa dan membahas kembali terkait parkir ini,” tuturnya.

Di sisi lain, Dinas Perhubungan Kabupaten Cianjur menyebutkan pengelolaan parkir di Universitas Suryakencana bukan di bawah pemerintah daerah, melainkan langsung oleh pihak universitas. Pasalnya untuk saat ini, parkir otomatis yang dikelola pemerintah hanya yang memang berada di lahan milik pemkab. Di antaranya Kantor Disdukcapil, Pasar Cipanas, dan rumah sakit.

“Hanya ada beberapa yang dikelola itu jadinya retribusi. Sementara yang di luar itu seperti yang di unsur, itu dikelola mereka dengan kontribusi ke daerah berupa pajak,” ungkap Kepala Bidang Teknik Sarana dan Keselamatan Dishub Kabupaten Cianjur, Prihadi Wahyu Santosa.

Menurutnya, untuk parkir yang dikelola pemkab nantinya akan masuk ke pendapatan daerah dari retribusi parkir, sementara di luar itu merupakan kewenangan OPD lain sebagai pajak retribusi.

“Kalau yang daerah itu tarif ya sudah ditetapkan melalui Perda dan Perbup. Sementara yang seperti di Unsur atau pengelolaan parkir lain itu tarif ya tergantung dari kebijakan mereka. Jadi harus dibedakan, yang dikelola pemerintah hanya yang berdiri di atas lahan pemkab,” ungkapnya.(bay/red)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.