Revitalisasi Perkebunan dan Dilema Penjarahan Lahan (1)

Gantungkan Hidup di Lahan Pertanian

0 118

 

CIANJUR, cianjurekspres.netMayoritas penduduk di Desa Batulawang Kecamatan Cipanas menggantungkan nasibnya berkebun di lahan hak guna usaha (HGU) milik PT MPM. Berbagai macam tanaman sayuran yang ditanami oleh para petani di lahan tersebut, mulai dari sayuran jenis tomat, kol, wortel dan masih jenis sayuran lainnya.

Seperti yang dikatakan oleh salah satu Ketua Kelompok Tani (Poktan) Membumi, Siswati, 40. Menurutnya, sudah lebih dari 5 tahun dirinya melakukan atau bercocok tanam di Blok Maduhur (Ciseureuh) Desa Batulawang. Wati mengatakan, semua jenis sayur dia tanam seperti jagung, labu siam, kol, wortel, pakcoy, kacang panjang, dan masih banyak jenis sayuran lainnya.

“Hampir semua jenis sayuran saya tanam di sana (lahan HGU milik PT MPM). Dan memang tanah itu sangat subur, maka kami (petani, red) pun tidak perlu lagi ribet dengan cara perawatannya,” ungkap dia kepada Cianjur Ekspres, saat ditemui di rumahnya di Blok Mahudur, belum lama ini.

Wati mengatakan, dari hasil panen tersebut sebagiannya dikonsumsi warga sekitar dan ada juga pengepul yang datang untuk mengambil hasil panennya untuk dijual. Wati mengatakan, di Poktan Membumi tersebut saat ini kurang lebih ada 15 anggota yang tergabung. Pihaknya akan terus berusaha menambah lagi anggota kelompok tani.

“Kami bentuk kelompok tani Membumi ini diharapkan semua anggota bisa lebih terarah, karena saat ini masih banyak lahan yang masih belum terjangkau,” katanya.

Wati menjelaskan, setiap kelompok tani yang bergabung di Poktan Membumi relatif tidak semua memiliki luasan lahan yang sama. Namun, rata-rata minimal petani menggarap 5.000 meter lahan bahkan hektaran. “Saya pikir relatif ya, ada yang punya lahannya luas, ada yang lima ribu meter bahkan ada juga yang hektaran. Pokoknya bervariatif,” katanya.

Menurutnya, poktan yang dibentuknya itu saat ini kurang lebih baru berjalan 5 hingga 7 bulan. Adapun program yang diusung Poktan Membumi tersebut adalah ingin merangkul semua petani.

Selain itu, pihaknya juga berkeinginan ke depannya hasil pertanian yang tergabung di Poktan Membumi akan dicarikan market yang bagus. Dengan begitu para petani pun tidak selalu merugi. “Kami akan merangkul dan juga akan kami arahkan bagaimana caranya para petani holtikultura di Desa Batulawang ini tidak selalu jeblog terus,” katanya.

Wati mengatakan, kurang lebih 12 poktan yang tergabung di Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Batulawang. Menurutnya, luasan lahan pertanian di Desa Batulawang itu sangat luas, dengan begitu dipastikan banyak kelompok-kelompok tani tersebut.

Menurutnya, kelompok tani yang ia bentuk itu sudah berjalan 7 bulan. Namun hingga saat ini belum ada penyuluhan-penyuluhan yang disampaikan dari Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur. Wati mengatakan, pernah ada informasi dari Dinas Pertanian dan akan membahas proyek yang besar untuk pertanian, namun hingga saat ini belum juga ada realisasinya.

“Saat ini, saya bersama teman-teman anggota Poktan Membumi ini belum mempunyai kartu kelompok tani. Apalagi katanya sekarang ini bagi petani yang mempunyai kartu tani tersebut bisa digunakan untuk belanja pupuk dengan menunjukan kartu tani tersebut. Saya harap pemerintah agar cepat memberikan realisasinya kepada kami sebagai petani, bukan hanya digembor-gemborkan saja,” terang Wati.

Kepala Desa Batulawang H Nanang Rohendi mengatakan, saat ini kurang lebih ada 12 poktan yang tergabung di Gapoktan desa. Seperti Poktan Holtikultura dan Poktan Padi. Saat ini setiap poktan dirata-ratakan memiliki anggota minimal 15 anggota.

“Kalau berdasarkan data estimasi kami, 60 hingga 70 persen masyarakat Desa Batulawang itu petani. Artinya kurang lebih ada 7 ribuan lebih masyarakat yang menggantukan hidupnya di pertanian,” tandasnya.(mg2/red)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.