Pelayanan di Puskesmas Jabar Akan Ditingkatkan

Cianjurekspres.net – Reformasi puskesmas di Jawa Barat dinilai perlu dilakukan peningkatan agar kesehatan masyarakat dapat dilayani lebih baik. Selain itu, dalam penanggulangan Covid-19 di Jawa Barat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat pihaknya fokus pada wilayah Bodebek dan Bandung Raya sebagai daerah penyumbang kasus Covid-19 terbanyak di Jawa Barat.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menyebut, prinsip yang pertama adalah proaktif. Jawa Barat menerapkan pemerintahan yang proaktif karena wilayah Indonesia sangat besar sehingga pemerintah daerah harus mampu membuat keputusan secara cepat.

“Kedua, transparan. Di Jawa Barat, keterbukaan informasi salah satunya dilakukan melalui aplikasi Pusat Informasi dan Koordinasi Covid-19 Jawa Barat (Pikobar),” ujar Emil (sapaan Ridwan Kamil) dalam keterangan tertulisnya, Rabu (21/10/2020).

Ketiga, lanjut Emil Jawa Barat menggunakan scientific leadership sehingga setiap keputusan dibuat berdasarkan masukan para ahli.

Keempat, inovatif. Emil menjelaskan, Jabar mampu menggerakkan seluruh industri untuk fokus melawan pandemi, antara lain dengan adanya fasilitas waste management untuk limbah Covid-19 hingga membuat ventilator dan Alat Pelindung Diri (APD).

Prinsip kelima adalah kolaborasi dengan berbagai pihak atau institusi sebagai salah satu kunci penanganan pandemi Covid-19 di Jawa Barat secara cepat dan tepat.

“Adapun saat ini, pengetesan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) yang dilalukan di Jawa Barat sudah memenuhi standar WHO yakni terhadap 1 persen dari total populasi,” tuturnya.

Berdasarkan data Pusat Informasi dan Koordinasi Covid-19 Jawa Barat (Pikobar) hingga Selasa (20/10) pukul 21:00 WIB, terdapat 502.993 tes PCR di Jawa Barat. Merujuk Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jabar, total penduduk Jabar per 2019 adalah 49,3 juta jiwa.

Sementara itu, guru besar Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. dr. Akmal Taher, SpU(K) mengatakan akan mengusulkan pelaksanaan tracing dan testing di puskesmas.

Ia mencontohkan, puskesmas memiliki peran krusial dalam penanganan pandemi Covid-19 di Thailand. Akmal mengatakan, Thailand memiliki sekitar 10 ribu puskesmas untuk 70 ribu penduduk. Sementara Indonesia memiliki 10.300 puskesmas untuk 260 juta penduduk.

“Puskesmas itu kekuatan kenapa mereka (Thailand) bisa mencegah dan mendeteksi dini Covid-19. Mereka istilahkan puskesmas mereka punya kemampuan untuk mencegah Covid-19,” tutur Akmal.

“Jadi kami usulkan tracing dan testing dilakukan di puskesmas, karena kita belum memanfaatkannya. Apalagi jika kita ingin mempertahankan pelayanan dasar kesehatan,” tambahnya.

Menurut Senior Advisor WHO asal Indonesia, Diah Satyani Saminarsih, puskesmas adalah kunci untuk mengendalikan pandemi dari hulu karena memiliki jejaring yang sangat luas.

“Investasi di puskesmas, layanan kesehatan dasar, akan menopang kesehatan suatu negara,” ujar Diah.

Ia pun menyarankan agar pemerintah bisa mengoptimalkan peran strategis puskesmas dalam penanganan Covid-19.(rls/**)