Petani Haurwangi Gagal Panen

0 106

 

CIANJUR, cianjurekspres.net – Musim kemarau yang berkepanjangan mengakibatkan sejumlah wilayah di Kabupaten Cianjur mulai mengalami krisis air. Dampak kekeringan ini dirasakan oleh para petani di Kecamatan Haurwangi, mereka mengalami gagal panen setelah padi yang mereka tanam mengering.

Desa Kertasari dan Desa Haurwangi merupakan dua desa di Kecamatan Haurwangi yang sangat terdampak dari musim kemarau. Saat ini warga sudah mulai kebingungan dengan kebutuhan air, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk lahan persawahan yang mereka garap.

Hendra, 40, salah seorang petani warga Kampung Haurwangi RT01/RW05, Desa Haurwangi, Kecamatan Haurwangi mengatakan, dalam kurun waktu tiga bulan ini sungai yang mengalir di wilayahnya terus mengalami penyusutan debit air. Bahkan menurutnya, air irigasi dari wilayah Bojongpicung sudah tidak mengalir sama sekali.

“Sudah lama air dari irigasi itu tidak mengalir lagi, padahal itu aliran air induk pasokan dari Sukarama dan Bojongpicung untuk mengairi areal pesawahan di wilayah Haurwangi. Kondisi ini cukup memprihatinkan bagi para petani,” kata Hendra kepada Cianjur Ekspres, Minggu (12/8).

Dikatakan Hendra, sawah miliknya pun mengalami gagal panen. Karena menurutnya, dari sawah seluas 4000 meter lebih itu biasanya bisa panen 3 sampai 4 ton dalam setiap musim panen, namun pas musim tanam kemarin areal sawah sudah tidak lagi teraliri air.

“Kalau kerugian saya pribadi kurang lebih Rp 3 jutaan, tapi kalau panen padinya hanya 1,2 ton saja. Artinya beberapa ton yang hilang. Selain saya, puluhan petani lainnya juga mengalami nasib yang sama,” ujar Hendra.

Sementara itu, Imas Susilawati, 47, warga Kampung Cipeuteuy RT03/RW07 Desa Kertasari, Kecamatan Haurwangi, mengungkapkan, jika dirinya saat ini sudah mulai mengalami kesulitan dengan air bersih. Menurutnya, musim kemarau tahun lalu ia bersama warga lainnya terpaksa harus beli air bersih seharga Rp 50 ribu untuk satu torn air, dan hal ini pastinya akan kembali dialami warga.

“Meskipun sekarang belum begitu berdampak besar, tapi kalau dilihat dari pesawahan yang ada di Kampung Cipeuteuy terlebih yang ke arah Kampung Parabon dan Kampung Kajar-Kajar sudah mulai kesulitan air bersih,” katanya.

Imas berharap musim kemarau tahun ini jangan terlalu lama karena selain susah untuk mendapatkan air bersih, ia bersama keluarganya itu terpaksa harus membeli atau pun numpang ke wilayah tetangganya untuk mencukupi kebutuhan air bersih.

“Kalau sudah parah biasanya selain beli air bersih, kami disini sengaja pergi ke sungai Cihea dengan jarak sekitaran 3 sampai 4 kilo meter, dan ini dilakukan juga oleh warga lainnya hampir disetiap musim kemarau,” pungkasnya. (mg2/yhi).

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.