Niat Hati Ingin Mengajar, Guru SDN Cipanas 2 Cianjur Kaget Lihat Kondisi Rumah Muridnya

Tinggal di Gubuk Reyot Bekas Villa

Cianjurekspres.net – Helmalia (9) murid Kelas IV Sekolah Dasar Negeri (SDN) Cipanas 2, harus tinggal di sebuah gubuk reyot yang jauh dari pemukiman warga bersama ayahnya, Hakim.

Sebuah rumah tidak layak huni di Jalan Pasir Kampung, RT 04/RW 14 Desa/Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur. Jangankan jauh dari sekolah tempat belajarnya, di sekitarnya bahkan tidak ada satupun warga atau rumah lain yang bisa dijadikan tetangga.

Bagaikan tinggal di hutan. Keadaan sekeliling rumahnya dipenuhi pohon-pohon belantara dan semak-semak.

Rumah yang hanya berlantaikan tanah,  beratapkan genteng yang sudah lapuk, bocor ketika datangnya hujan. Konon, rumah tersebut merupakan bekas villa milik orang lain yang sudah sangat tak terawat dan tak berpenghuni.

Berdasarkan cerita dari guru kelasnya, Opih Sopiah, Helma sudah kurang lebih dua tahun tinggal di rumahnya tersebut. Sebelumnya, keduanya tinggal bersama keluarga dari ayahnya.

“Kurang lebih udah dua tahun yang saya dengar cerita dari ayahnya. Dulu sekolahnya di Sukabumi, mulai pindah kesini semenjak semester pertama kelas 3 SD,” katanya saat dikonfirmasi cianjurekspres.net, Sabtu (4/4/2020).

Diketahuinya, orang tuanya sudah lama bercerai sejak Helma masih kecil. Sempat diurus ibunya setelah bercerai, namun ayahnya bersikeras mengambil alih hak asuh dikarenakan Helma terlihat kurang terurus.

Ayahnya, Hakim, bekerja sehari-hari sebagai buruh tani. Menurut informasi yang didapat Opih, penghasilan yang diraih sekitar Rp40 ribu per harinya.

Helmalia (9) Murid SDN Cipanas 2 Cianjur dengan latar belakang rumahnya yang tidak layak huni.(ist)

“Ya kalau buruh tani kan gimana ada rezekinya. Kalau ada kerjaan, dapat 40 ribu per hari, segitu juga cukup buat bekel anaknya sekolah walaupun tak seberapa dibanding yang lain,” imbuhnya.

Kondisi Helmalia dan ayahnya diketahui Opih setelah diberlakukannya sistem belajar online di tengah pandemi Covid-19. Pasalnya, Helma maupun ayahnya tidak punya akses untuk bisa belajar melalui sistem online karena tidak punya Smartphone.

Atas dasar tersebut, Opih meninjau beberapa murid yang tidak mengikuti kelas online. Salah satunya Helma. Opih berniat untuk mengunjungi rumahnya namun tak ada yang tahu dimana keberadaan rumah Helma yang jauh dari pemukiman tersebut.

Beruntung, salah seorang teman kelasnya, Nikita (9) sempat berkunjung ke rumah Helma beberapa waktu lalu untuk bermain. Akhirnya, Opih menemukan jalan untuk sampai ke rumahnya dan mengecek kondisi Helma.

“Tidak ada yang tahu rumahnya. Itu pun ada temannya yang kebetulan pernah main ke rumah Helma, saya langsung ajak temannya untuk mengantar saya ke Helma,” terangnya.

Opih menuturkan, Helma merupakan siswa yang pendiam. Di kelasnya, Helma tak banyak berinteraksi dengan banyak orang. Helma terbilang tidak mempunyai banyak teman kelas. Mungkin hanya satu atau dua teman yang sering berkomunikasi dengannya.

Urusan nilai, Helma terbilang masih jauh dari prestasi, mungkin Helma tidak punya saudara atau orang lain yang dapat membimbingnya di luar sekolah ketika ayahnya bekerja.

“Tapi alhamdulillah kalau dulu Helma masih belum bisa baca, sekarang sudah bisa baca. Ya maklum, enggak ada yang membimbingnya ketika ayahnya pergi bekerja,” tuturnya.

Meski begitu, semenjak video yang menunjukkan rumahnya tersebut viral di sosial media, Opih mengaku ada beberapa orang dermawan yang menghubunginya untuk membantu menyalurkan bantuan untuk Helma.(Rida R Azizah)