Saldo KPM Diduga Disunat

Banyak Beras Berkulitas Jelek, Telur Busuk, dan Abon Tak Berlabel

CIANJUR – Saldo pada Kartu Kombo milik Keluarga Penerima Manfaat (KMP) dalam program sembako di Kabupaten Cianjur diduga kuat disunat. Pasalnya, para penerima manfaat tidak pernah diberikan struk rincian harga bahan pangan yang sudah mereka beli.

Harga bahan pangan pun diduga tidak sesuai dengan harga di pasaran. Apalagi banyak mencuat dan laporan bahwa kualitas bahan pangan yang diterima sebagian KPM terbilang berkualitas buruk, bahkan tidak layak dikonsumsi.

Seperti halnya beras. Rata-rata PKM mendapatkan beras kualitas sebanyak 9 kilogram dan ada pula yang menerima 8 kilogram. Parahnya, kualitas beras juga tidak semua berkualitas baik. Selain itu, banyak pula warga yang menerima telur yang kualitasnya buruk dan tidak layak konsumsi. Begitu juga dengan kualitas abon dan kacang hijau, tidak semuanya berkualitas baik.

Oleh karenanya, Presidium LSM Aliansi Masyarakat Penegak untuk Hukum (Ampuh) Kabupaten Cianjur, Yana Nurjaman, meminta sejumlah pihak terutama aparat penegak hukum (APH) membongkar adanya dugaan indikasi korupsi pada program Sembako ini. Kuat dugaan, saldo para KPM dari kartu kombo atau KKS disunat lantaran tidak pernah tersisa sedikit pun saldo KPM ini.

“Pada struk belanja juga tidak ada rincian harga bahan pangan. KPM hanya datang ke e-Warong, lalu diberikan paketan bahan pangan. Mereka pun tidak bisa memilih barang pangan yang sesuai dengan pedoman umum,” ungkapnya kepada Cianjur Ekspres, Rabu (12/2/2020).

Yana menjelaskan, pada struk atau slip kwitansi tertera Rp150.000. Sedangkan hitungan kasar pada bahan pangan rata-rata tidak sampai Rp150.000. Contohnya, harga beras kualitas premium di tingkat pasar rata-rata Rp11.000 per kilogram, dan KPM mendapatkan beras dari e-Warong sebanyak 9 kilogram, totalnya Rp99.000. Telur sebanyak 6 butir dengan harga Rp12.000 (tingkat eceran), sedangkan harga di pasar tradisional Rp25.000 per kilogram.

Lalu harga kacang hijau di tingkat pasar Rp21.000 per kilogram (kualitas baik), tapi KPM hanya mendapatkan sekitar 1/4 kilogram yang sudah di-pack, perkiraan harga Rp5.500, dan abon Rp17.000 di tingkat eceran toko modern dan pasar. Jadi, perkiraan total belanja KPM pada e-Warong senilai Rp133.500.

“Kami menduga ada lebih uang atau sisa saldo Rp16.500. Itu pun jika bahan pangan yang diterima komplit oleh setiap KPM dan kualitasnya baik,” ungkapnya.

Mungkin, kata Yana, sisa saldo senilai Rp16.500 terlihat kecil. Namun jika dijumlahkan dengan seluruh KPM di Kabupaten Cianjur yang mencapai lebih kurang 128.000 orang, dugaan kerugian negara mencapai Rp2.112.000.000 per bulan.

“Jumlah dugaan kerugiannya sangat fantastis. Jika dikalikan dalam satu tahun, hitung saja berapa kerugian negara,” ungkapnya.

Oleh karenanya, pihaknya akan menggelar unjuk rasa pada pekan depan agar kasus dugaan korupsi ini diusut tuntas. Sebab, sudah banyak sekali keluhan-keluhan masyarakat pad kualitas bahan pangan program sembako.

“Semua penyuplai bahan pangan harus diperiksa. Sebab, banyak beras yang tidak layak dan tidak mendapatkan ganti rugi, bahkan banyak pula warga yang menerima telur dalam keadaan busuk,” kata dia.

Di Kampung Cipicung, Desa Cibadak, Kecamatan Cibeber, sejumlah KPM protes atas bahan pangan yang diterimanya. Mereka juga menduga bahwa total belanja tidak mencapai Rp150.000. Wiwin (42) warga Kampung Cipicung, mengaku, mendapatkan beras 9 kilogram, telur enam biji, abon 1 ons, dan kacang hijau 1/4 kilogram.

“Saya kalau belanja ini paling Rp27 ribu, karena abon hanya satu ons, telur paling 10 ribu enam biji, lalu kacang hijau seperempat,” ujarnya, Selasa (12/2/2020).

Wiwin berharap, bahan pangan bantuan sembako tersebut bisa disesuaikan dengan harga yang telah ditentukan oleh pemerintah yakni sebesar Rp 150.0000.

Kepala Desa Cibadak, Elan Hermawan, berharap bertambahnya nilai program Sembako ada kepuasan yang bertambah juga untuk warga. “Saya berharap memang ada perbaikan, tapi melihat seperti ini juga saya harus kroscek apa harganya sesuai,” ujar Elan.

Elan juga mempertanyakan nomor PIRT, label halal, dan izin edar BPOM tidak tertera pada abon. Di kemasan abon tak ada apapun keterangan hanya dibungkus plastik. “Di awal tahun dengan tambahan kuota anggaran untuk kacang hijau, telur, dan abon, sebagai kades saya juga bertanya kenapa tak ada labelnya untuk abon, dan juga timbangannnya nanti saya cek apakah sesuai,” ujarnya.

Elan berharap pada intinya pihaknya ingin ada perbaikan karena ini untuk kepentingan warga. “Di Desa Cibadak ini kurang lebih ada 700 keluarga peneriman manfaat program bantuan sembako,” pungkasnya.

Info Grafis:

HARGA SEJUMLAH KOMODITAS DI PASAR TRADISIONAL 2020

1. Beras kualitas premium Rp10.030 /kg (naik 1,98%)
2. Beras kualitas medium Rp9.805 /kg (naik 2,51%)
3. Beras di luar kualitas Rp9.519 /kg (naik 2,88%)

**ket: Kenaikan harga beras karena terjadi di tingkat penggilingan, harga GKP di tingkat petani naik 1,13% menjadi Rp5.273 /kg dan GKP di tingkat penggilingan naik 1,09% menjadi Rp 5.371 /kg.

4. Telur Rp25.000 /kg
5. Kacang hijau Rp21.000 /kg
6. Abon Sapi (bermerek/berkualitas) Rp32.900 /ons
7. Abon Sapi (tanpa merek) Rp14.900 /ons
8. Abon Ayam (bermerek/berkualitas) Rp25.900 /ons
9. Abon Ayam (tanpa merek) Rp12.000 /ons

BAHAN PANGAN PROGRAM SEMBAKO YANG DITERIMA KPM

1. Beras kualitas premium 9 Kg
2. Abon sapi (ada juga abon ayam) 1 ons
3. Kacang hijau (1/4 kg-0,5 kg)
4. Telur 6 butir.

KELUHAN KPM PENERIMA SEMBAKO

1. Kualitas beras tidak sesuai
2. Telur busuk
3. Abon sapi dan ayam tak berlabel dan tidak ada izin BPOM

DUGAAN ADANYA PEMOTONGAN SALDO KPM

1. KPM tidak menerima struk rincian belanja
2. Harga bahan pangan diduga tidak sesuai di pasaran
3. Saldo pada kartu kombo tidak pernah tersisa
4. E-Warong rata-rata menjual bahan pangan paketan.(yis/red/hyt)