Potensi Krisis Penyakit Sosial Terbuka Lebar

0 92

 

CIANJUR, cianjurekspres.net – Komisi IV DPRD Kabupaten Cianjur mendesak Pemerintah Kabupaten Cianjur bergerak lebih intens untuk mengatasi permasalahan penyakit sosial, mulai dari keberadaan Wanita Penjaja Seks (WPS), penyimpangan seksual, hingga terkait HIV/AIDS yang semakin banyak ditemukan.

Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Cianjur dari Fraksi PDI Perjuangan, Cecep Buldan, mengatakan, terkait keberadaan WPS, pemerintah melalui Satpol PP harus bertindak tegas dan terus melakukan penjaringan, supaya ke depan tidak ada lagi WPS.

“Segera kirim ke panti rehabilitasi dan pelatihan, supaya ke depan mereka juga punya keahlian dan tidak lagi menjadi WPS,” kata dia kepada Cianjur Ekspres saat dihubungi melalui telepon seluler, kemarin (1/8).

Menurutnya, jika para WPS itu tidak dibina atau diberi pelatihan, kemungkinan besar akan kembali ke profesinya, mengingat menjadi cara yang mereka anggap mudah memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Maka dari itu, PR-nya tidak hanya saat penertiban, tapi pascanya,” kata dia.

Sementara itu, mengenai penyimpangan seksual terutama laki-laki seks laki-laki, pihaknya mendorong agar peran dari semua pihak bisa bersinergi. Bukan hanya pemerintah ataupun tokoh warga, tapi juga peran dari para ulama. “Sekarang ancaman terbesar itu penyimpangan seks, apalagi dampaknya juga ke penyakit seksual menular dan penyakit berbahaya lainnya,” tuturnya.

Dia menambahkan, jika keduanya bisa teratasi, maka penularan penyakit berbahaya, yaitu HIV/AIDS bisa ditekan. Sayangnya saat ini masih belum maskimal untuk penanganan kedua hal tersebut, akibatnya jumlah Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) terus bertambah.

Jika dibiarkan, lanjut dia, maka Cianjur ke depan akan menjalani krisis penyakit sosial. “SZekarang masih belum, tapi kalau dibiarkan bukan tidak mungkin Cianjur ini krisis penyakit sosial,” kata dia.

Diberitakanm sebelumnya, Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur mencatat ada penambahan puluhan Orang Dengan HIV/ADIS (ODHA) baru hingga pertengahan tahun ini. Pelaku seks menyimpang terutama laki-laki seks laki-laki menjadi penyumbang yang cukup besar untuk ODHA.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Cianjur, Neneng Efa Fatimah, mengatakan, dari data dinas sebanyak 42 ODHA di pertengahan tahun ini, yang berasal dari kaum gay mencapai 45 persen. Risiko penularan HIV/AIDS pun lebih tinggi dibandingkan WPS ataupun kategori risiko tertular lainnya.

“Itu untuk data hingga pertengahan tahun, masih ada cukup banyak rentang waktu hingga kahir tahun. Dimungkinkan ada penambahan lagi. Dan LSL ini tetap jadi penyumbang yang besar untuk ODHA,” kata dia.(bay/red)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.