Brandon Siswa SLB dengan Beragam Prestasi

Feature

MENJADI disabilitas bukan halangan bagi Orlando Kumendo (18) dalam mengukir prestasi menggagumkan. Inilah kisah seorang siswa kelas XII, di SLB Bina Asih Prawatasari, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Laporan: Rida R Azizah, Cianjur

Di dalam sebuah kelas berukuran 2,5 x 2,5 meter, berisikan 10 orang siswa disabilitas tengah asyik belajar. Masing-masing memiliki guru khusus termasuk Brandon, sapaan akrab Orlando.

Hasil pantauan di lokasi, saat belajar matanya hanya fokus terhadap gerakan bahasa isyarat yang dilakukan oleh gurunya, Hamidah (40).

Ketika jam istirahat, Brandon pun tak segan bermain sambil bercanda bersama teman-temannya.

Saat jam menunjukan pukul 13.30 WIB, dan bel pulang berbunyi suasana berubah riuh, layaknya sebuah sekolah, para siswa seakan menantikan jam pulang sekolah sambil berlarian keluar dari kelas dengan wajah bahagia.

Namun, hal itu tidak berlaku bagi Brandon. Baginya, jam pulang menjadi waktu yang tepat untuk berlatih bulutangkis dan mengasah keterampilan di kriya kayu.

Kegigihan yang ditunjukan Brandon selama dua tahun terakhir membuahkan hasil manis, beragam juara ia sabet dari skala kecamatan hingga kabupaten.

Prestasi paling mengagumkan diperlihatkan Brandon saat tiga kali juara, di Lomba Keterampilan Siswa Nasional (LKSN) Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) skala kabupaten.

“Kita sedang mempersiapkan Brandon untuk bertanding ke skala Jawa Barat, semoga bisa mewakilkan Cianjur nantinya,” ujarnya Hamidah, guru sekaligus kesiswaan kepada cianjurekspres.net di Jalan Surya Kencana No.11, Sawah Gede, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, belum lama ini.

Tak hanya pandai di bidang olahraga dan kesenian, Brandon pun pintar dalam akademik. Sang guru mengaku, Brandon menjadi salah anak yang paling diandalkan untuk membawa harum nama sekolah.

“Jika melihat Brandon dia seperti anak normal lainnya, keterbatasannya hanya di pendengaran dan berbicara saja,” tuturnya.

Terlihat dari pantauan cianjurekspres.net, komunikasi yang ditunjukan Brandon kepada orang normal lainnya tetap baik. Ia mencerna semua obrolan dengan fokus dan ekspresif, cara menyampaikan pendapat pun menggunakan bahasa tangan dan suara yang terbata-bata.

Sosok Brandon dibentuk oleh sang nenek yang membesarkannya, Nani (55), pascakedua orangtuanya pindah ke Kalimantan.(rid/nik)