Miris, Begini Kondisi Jembatan Cibuni yang Sudah Makan Korban Jiwa

CIANJUR – Jembatan Cibuni sepanjang 150 meter di Kampung Cibungur RT 03/RW 03, Desa Sinarbakti, Kecamatan Cijati, Kabupaten Cianjur rusak parah dan belum pernah diperbaiki sejak 1979 silam. Padahal, jembatan itu sudah menelan korban jiwa dan luka-luka.

Jembatan yang dibangun pada 1979 itu tidak jelas statusnya. Pemerintah Kabupaten Cianjur dan Sukabumi pun hanya bisa saling tuding dalam rencana perbaikan. Usulan demi usulan yang dibuat oleh warga pun hanya meninggalkan janji yang tak pernah terealisasi hingga 2020 ini.

Tak pernah ada solusi, meskipun Ombudsman pernah turun tangan pada 2018 lalu. Seakan lelah dengan janji-janji pemerintah, warga pun terpaksa memperbaiki jembatan itu ala kadarnya saja dengan cara swadaya.

“Warga di sini (Desa Sinarbakti, red) sudah lelah mengusulkan permohonan. Pemerintah dari Cianjur-Sukabumi selalu melakukan pertemuan tapi tidak pernah ada solusi,” kata Kepala Desa Sinarbakti, Mustaram kepada Cianjur Ekspres, Rabu (22/1/2020).

Dia mengatakan, Jembatan Cibuni sudah menelan tiga korban jiwa siswa SD dan SMP ketika berangkat dan pulang sekolah. Korban luka-luka pun sudah banyak ketika warga melakukan aktivitasnya sehari-hari.

“Banyaknya kejadian kecelakaan tidak menjadikan dasar pemerintah untuk memperbaiki jembatan tersebut,” kata dia.

Selain itu, kata dia, jembatan itu merupakan akses satu-satunya menuju sekolah di MI Sinargalih, SDN Sinarbakti, MTs Ar-Rosyidh, SMK Tunas Bangsa, SMAN Tunas Bangsa, SMA Al-Barokah, dan SMA di Pasirgintung, Desa Padaasih.

“Ada ratusan siswa-siswi yang melewati jembatan itu hampir setiap hari. Kami khawatir, ada lagi korban jiwa yang menimpa siswa,” ujarnya.

Tak hanya itu saja, lanjut Mustaram, Jembatan Cibuni juga akses utama untuk mendistribusikan hasil tani warga Desa Sinarbakti. Namun, akibat jembatan dalam kondisi rusak parah menyebabkan penghasilan petani menurun drastis dan perekonomian pun terganggu.

“Sekarang banyak petani yang menganggur. Mereka tidak ada pekerjaan. Jembatan sudah tidak bisa dilewati mobil untuk mengirim hasil tani ke wilayah Sukabumi,” kata dia.

Mustaram menceritakan, mayoritas warga Desa Sinarbakti merupakan petani. Hasil bumi yang didapat, di antaranya pisang, singkong, ubi, jagung, padi, dan sayuran. Sayangnya, hasil tani itu tidak bisa dijual karena akses terputus akibat kondisi jembatan rusak parah.

Penderitaan warga, khususnya petani tidak itu saja. Jalan Sinarbakti sepanjang 5 kilometer milik kabupaten pun tidak pernah diperbaiki sejak 2002 silam. Jalan dibiarkan rusak parah bak sungai kering, berbatu dan licin.

“Warga kami benar-benar terisolir akibat infrastruktur rusak parah. Pada akhirnya, banyak warga kehilangan pekerjaan. Tidak menutup kemungkinan, tingkat kemiskinan dapat meningkat,” keluhnya.

Desa Sinarbakti memiliki akses jalan desa sepanjang 95 kilometer dan perbaikan jalan baru terealisasi sepanjang 60 kilometer. Sisanya, sepanjang 35 kilometer dalam keadaan rusak parah dan belum tersentuh perbaikan.

“Di sini ada sekitar tiga ribu jiwa dan mayoritas sebagai petani. Penghasilannya mengandalkan hasil bumi. Sangat sulit untuk meningkatkan kesejahteraan jika infrastruktur rusak parah,” pungkasnya.(red/hyt)