Olah Sampah Rumah Tangga dengan Biopori

CIANJUR – Pemerintah Kabupaten Cianjur terus melakukan sosialisasi pengolahan sampah berbasis rumah tangga.

Kepala Seksie Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah DLH Kabupaten Cianjur, Dian Mardiana mengatakan, penanganan sampah berbasis rumah tangga diyakini mampu menyelesaikan masalah sampah.

Dian memaparkan, berdasarkan kajian di lapangan khususnya di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS), sampah rumah tangga 50% adalah organik.

“Sampah organik ini bisa diselesaikan dengan pembuatan biopori atau lubang cerdas organi,” katanya.

Sementara, sampah nonorganik dapat diselesaikan dengan bank sampah. Saat ini, sebanyak 10 bank sampah aktif dalam penanganan sampah di Wilayah Kabupaten Cianjur.

Untuk pembuatan biopori DLH Kabupaten Cianjur, lanjut Dian, akan terus melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat.

“Biopori adalah salah satu metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi banjir dengan meningkatkan daya resap air pada tanah,” paparnya.

Peningkatan daya resap air pada tanah dilakukan dengan membuat lubang pada tanah dan menimbunnya dengan sampah organik untuk menghasilkan kompos.

Sampah organik yang ditimbunkan pada lubang dapat menghidupi fauna tanah. seterusnya mampu menciptakan pori-pori di dalam tanah, dengan teknologi sederhana ini kemudian disebut dengan nama biopori.

“Harus gencar diadakan sosialiasi dan edukasi dulu kepada masyarakat. Sehingga permasalahan sampah ini bukan hanya ditangani pemerintah, namun semua elemen masyarakat turut serta memperhatikan lingkungan ini salah satunya dengan biopori ini,” jelasnya.

Salah seorang warga Kampung Cicadas, Cilaku, Kabupaten Cianjur, Sandi Mulyadi (36) terus menerapkan gaya hidup bebas sampah dengan biopori tersebut.

Berdasarkan hitungan, menurut Yadi, biopori yang telah dibuat tersebut mampu meresapkan air 0,31% dari kebutuhan masyarakat.

Yadi mengaku sudah sedari dulu ia menerapkan gaya hidup ramah lingkungan itu. Pembuatan biopori ini membusukkan sampah organik menjadi pupuk kompos.

Biopori ini berguna untuk mengurangi beban TPA secara signifikan dan tentunya membuat tanah menjadi subur. Bahan-bahan yang bisa dimasukkan ke dalam Lubang resapan Biopori adalah bahan-bahan yang mudah terurai oleh fauna tanah, misalnya daun, rumput dan sisa-sisa makanan atau yang biasa disebut sampah organik.

“Tapi jangan memasukkan sampah anorganik ya, seperti plastik, kaleng, mika/fiber karena tidak dapat terurai,” terang Yadi.

Lebih dari itu, pemanfaatan Biopori ini dapat mengurangi genangan air yang menimbulkan penyakit. Selain itu, air hujan yang dibuang percuma ke laut berkurang.

“Di musim hujan, Biopori ini dapat mengurangi resiko banjir pula,” pungkasnya.(rid/nik)