Basuki: Indonesia Punya Tantangan Dalam Pengelolaan Air

BANDUNG – Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Dr. Ir. Mochammad Basuki Hadimuljono mengajak masyarakat Indonesia dalam memahami persoalan air.

Menurutnya, tantangan-tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan sumber daya air, serta memaparkan kebijakan-kebijakan dan penerapan kebijakan tersebut yang telah, tengah dirancang, dan akan diterapkan guna meningkatkan daya saing bangsa.

“Indonesia memiliki kekayaan sumber daya air terbesar kelima di dunia,” tegas Basuki di Gedung ITB, Kamis (16/1/2020).

Berdasarkan data curah hujan, kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS), serta pemodelan Rainfall-Runoff, Kementerian PUPR menyatakan bahwa ketersediaan air permukaan rata-rata tahunan Indonesia adalah 2,78 triliun meter kubik per tahun.

Potensi air tanah pada Cekungan Air Tanah (CAT) di Indonesia juga cukup besar. Jumlah CAT terdata sebanyak 421 buah dengan potensi lebih dari 500 miliar meter kubik per tahun dengan luas total 907 ribu km atau 47,2 persen dari luas daratan.

BACA: Basuki Hadimuljono Mendapat Gelar Honoris CausaLebih 

Dari kondisi tersebut, Basuki menjelaskan bahwa Indonesia memiliki tantangan yang dalam pengelolaan sumber daya air karena secara geografis ketersediaan air per kapita antarpulau di Indonesia sangat bervariasi.

Lebih dari setengah total penduduk Indonesia yang tinggal di Pulau Jawa hanya mendapatkan sedikit air atau sekira 1.700 meter kubik per tahun per kapita atau sekitar 10% terhadap rata-rata ketersediaan air per kapita di Indonesia.

“Melihat angka-angka ketersediaan air tersebut, maka pemerataan pembangunan di luar Jawa yang dapat memicu dan memperbaiki distribusi penyebaran penduduk Indonesia sangat mendesak untuk terus dilakukan,” tuturnya

Tantangan lain, lanjut Basuki, adalah memastikan Integrated Water Resources Management (IWRM), Smart Water Management (SWM), dan target-target yang telah ditetapkan dapat dicapai sesuai dengan waktu dan sumber daya yang tersedia. Maka dari itu Kementerian PUPR menerapkan 5 strategi pokok.

Strategi pertama, penyusunan program-program kegiatan yang tersistem (sistemik) dengan baik dan fokus. Tersistem yang dimaksud tidak hanya terkait siklus pembangunan, mulai dari Survey, Investigation, Design, Land Acquisition, Construction, Operation, and Maintenance (SIDLACOM), tapi juga memastikan semua infrastruktur yang dibangun bisa berfungsi dengan baik dan memberikan outcome yang dirancang.

Kedua, pengambilan keputusan yang cepat dan berani mengambil resiko. Ketiga, adalah pelaksanaan yang didukung oleh team work yang solid dan irama kerja rock and roll.

Strategi keempat adalah pengawasan yang detail dan konsisten. Dan strategi kelima adalah memastikan dan menjamin infrastruktur yang dibangun di Indonesia, didesain, dibangun, dioperasikan, dan dipelihara sesuai standar-standar yang berlaku.

“Lima strategi pokok yang telah diuraikan di atas merupakan praktek lapangan yang sejauh ini telah diterapkan Kementerian PUPR dan masih terus perlu kita kembangkan,” ujarnya mengakhiri.(rls/nik)