Jadi Ikon Sejak Ratusan Tahun, Begini Nasib Tauco Cianjur

CIANJUR – Sebagai produk olahan hasil fermentasi rebusan kacang kedelai dengan campuran bahan lainnya, Tauco, menjadi ikon dari Kabupaten Cianjur sejak ratusan tahun lalu. Namun, seiring berkembangnya zaman,Tauco justru mulai jarang diperbincangkan.

Dari sekian banyaknya toko hanya Tauco Nyonya Tasma Cap Meong, yang masih eksis sejak 1880. Seorang penerus generasi keempat, Frank Tasma menyebut, salah satu faktor tidak eksisnya kuliner Cianjur karena kurangnya peran masyarakat untuk mengedukasi kepada generasi muda untuk menyukai kuliner lokal.

“Proses pengolahannya sejak awal hingga kini tetap sama, dengan fermentasi di kuali tanah liat agar saat disajikan segar dan tetap panas. Harga per botolnya pun hanya Rp15.000 hingga Rp20.000 tergantung ukurannya,” ujar Frank kepada cianjurekspres.net di Jalan HOS Cokroaminoto, Cianjur Sabtu (11/1/2020). Namun produksi tauconya sendiri berada di Desa Cijedil, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur.

Frank mengklaim, perkembangan usaha tauco miliknya tidak pernah surut. Sebab, masih banyak yang mencari kuliner khas Cianjur baik datang secara langsung maupun online. “Kalau warga luar kota banyak sekali yang beli,”  tambahnya.

Frank merencanakan akan melakukan distribusi Tauco Cap Meong ke Jabodetabek. Selain omset, lanjutnya, hal ini diharapkannya akan berimbas pada pertahanan pengetahuan masyarakat terhadap Tauco yang asli dibuat langsung dari Cianjur.

“Kalau sampai gulung tikar rasanya tidak mungkin, karena minat membeli Tauco untuk bumbu penyedap rasa masih banyak yang mencari,” tuturnya.

Ia menyebut, kualitas produksi tauconya mengandalkan kualitas terbaik. Sehingga wisatawan lokal akan membeli secara terus menerus.  “Tauco yang asli dibuat disini,” klaimnya.

Menurut Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah, Perdagangan dan Perindustrian, Tohari Sastra mengatakan, pemasaran Tauco di Kabupaten Cianjur sendiri cukup meluas hampir tersebar di beberapa tempat, seperti halnya di pasar tradisional, swalayan serta di toko manisan yang ada di Kabupaten Cianjur.

“Tauco ini kan cukup dikenal oleh orang luar Cianjur sekalipun. Tapi memang masih ada yang belum tahu atau mencobanya, bahkan dari warga Cianjur sendiri,” ungkapnya.

Tohari menekankan, pihaknya pun akan terus  berusaha mendukung dan membina terhadap keberadaan makanan ciri khas Cianjur, salah satunya tauco. Terutama pada acara pameran UMKM dan momentum lainya.

“Sebenarnya kalau dibuat inovatif lebih mendukung, misalnya dibuat makanan olahan yang memang bahan utamanya dari Tauco. Maka produknya juga akan terangkat. Terus bakal dikenal lebih luas lagi,” terangnya.

Pihaknya menyarankan agar dibuat restoran yang khusus untuk penjualan kuliner Tauco. Selain itu, diadakannya ekstrakurikuler Tata Boga yang khusus tentang Tauco dan jenis kuliner Cianjur lainnya.

“Buat pecinta kuliner, dari luar Cianjur, kalau mau ke Cianjur kalau ada restoran yang khusus Tauco pasti mereka akan mencoba. Terus juga dengan adanya ekstrakurikuler khusus Tauco misalnya, ini berguna bagi generasi muda sebagai penerus dan menjaga kuliner lokal khas Cianjur satu ini untuk tetap dikenal luas,” tutupnya.(rid/nik)