Munggahan, Harga Daging Sapi dan Ayam Naik

0 40

CIANJUR, cianjurekspres.net – Harga daging ayam di pasaran mulai mengalami kenaikan, bahkan angkanya sudah melebihi batas harga tertinggi yang telah ditentukan. Pemerintah pun bakal segera mengambil tindakan untuk terus menekan harga, supaya konsumen tak diberatkan menjelang Ramadan dan Idul Fitri.

Hal itu terungkap setelah rapat pengendalian harga antara Unsur Mupida dengan peternak, hingga pedagang di Aula Kantor Dinas Pertanian Perkebunan Pangan dan Hortikultura.

Wakil Bupati Cianjur, Herman Suherman, mengatakan, dari seluruh komoditas yang menjadi perhatian, daging ayam yang mengalami kenaikan beberapa hari terakhir. Dari harga semula di angka Rp Rp 30 ribu sampai Rp 32 ribu per kilogram, kini sudah mencapai Rp 34 ribu sampai Rp 35 ribu per kilogram.

“Dibandingkan daging sapi, daging ayam yang teru mengalami kenaikan. Daging sapi masih di angka Rp 110 ribu per kilogram, sementara daging ayam sudah mulai naik Rp 4 ribu sampai Rp 5 ribu per kilogramnya,” kata dia kepada Cianjur Ekspres usai rapat koordinasi, kemarin (14/5).

Menurutnya, kenaikan tersebut terjadi lantaran antara ketersediaan ayam potong dengan kebutuhan masih belum sebanding. Apalagi belakangan ini peternak mengalami beberapa kendala, terutama saat panen.

Itu yang jadi kendala dan jadi kesempatan. Terkadang juga ketersediaan sudah pas, tapi di pasaran tetap kurang. Makanya perlu didalami juga masalahnya berfokus dimana.

Herman menegaskan, jika sampai beberapa hari ke depan harga daging ayam masih belum stabil, maka pihaknya akan turun ke lapangan dan memeriksa langsung di setiap tingkatan penjual, mulai dari peternak, distributor, hingga pedagang di pasar.

“Harga yang ditentukan kementerian beberapa waktu lalu di angka Rp 34 ribu per kilogram. Kalau terus naik, kami akan tindak tegas bersama satgas pangan. Tapi biasanya titik masalah itu ada di distributor,” katanya.

Di sisi lain, Asosiasi Pedagang Daging Domba, Ayam, dan Sapi Cianur menyebutkan kelangkaan DOC ayam menyebabkan harga daging ayam di Cianjur relatif tinggi menjelang Ramadan. Hal itu, membuat Pemerintah Kabupaten Cianjur diminta untuk menemukan solusi terkait kenaikan harga daging yang dinilai tak kunjung terselesaikan.

Selama bertahun-tahun, dinas terkait dinilai belum berhasil menemukan solusi atas kenaikan harga daging ayam, terutama menjelang hari-hari besar. Saat ini, daging ayam diketahui berada pada kisaran harga Rp 38 ribu per kilogram, dimana sejak dua pekan lalu besarannya terus naik turun.

Besaran tersebut juga terjadi pada awal 2018, dimana daging ayam dijual pada Rp 36 ribu-Rp 40 ribu per kilogram.
Ketua Asosiasi Pedagang Daging Domba, Ayam, dan Sapi (Apddas) Cianjur, Sri Rahayu mengatakan, selama dua tahun terakhir kenaikan harga daging ayam di Cianjur tergolong tidak dapat ditekan. Persoalan pakan hingga harga DOC ayam, menjadi alasan yang seringkali dilontarkan tapi tak kunjung memperoleh titik temu.

”Permasalahan yang ada jadi klise, seolah pemerintah tidak menemukan solusi baiknya seperti apa. Masalahnya berulang-ulang terus,” kata dia.
Hal itu diungkapkan, karena masih saja terjadi perdebatan yang bersifat saling tunjuk. Yayu mengatakan, kenaikan harga saat ini berasal dari pemotong yang kemudian menunjuk pihak peternak. Di sisi lain, peternak juga merasa dirugikan karena saat ini kelangkaan DOC membuat harga ayam spontan naik.

”Seharusnya, Dinas Peternakan bisa mengatur harga DOC. Di sini dinas yang sebenarnya bisa menyentuh ranah tersebut. Lagipula, mungkin saja pengusaha DOC boleh dicover oleh pemerintah. Tapi, tidak ada jawaban untuk itu,” ujar dia.

Lebih lanjut dikatakan, Yayu pun akan melakukan pembahasan dengan pihak terkait. Terutama, mengenai evaluasi harga DOC yang saat ini menjadi fokus dan faktor utama terjadinya kenaikan harga daging ayam. Ia menekankan, jika harga DOC tidak dapat dikendalikan, maka pengendalian atau penekanan harga daging ayam pun cenderung sulit dilakukan.
Akan tetapi, dia menjelaskan jika persediaan daging ayam saat ini cukup stabil. Berdasarkan hasil survey ke beberapa peternak, awal Ramadan ini akan menjadi awal panen ternak ayam sehingga persediaan jauh lebih aman.

Sementara harga daging sapi yang biasa ikut naik, saat ini cenderung stabil karena terbantu pasokan daging beku. Untuk kebutuhan daging sapi, Yayu mengklaim jika daging beku yang dipasok ke Cianjur aman karena proses pengolahan yang baik.

”Itu sebenarnya pasokan dari pengusaha lokal yang bekerjasama dengan pengusaha luar negeri. Proses pemotongannya juga di Indonesia, tanpa tersentuh tangan sehingga tidak terkontaminasi. Jadi aman, dan sekarang peminatnya cukup banyak,” ucapnya.(bay/red)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.