Teroris Biadab! Sejumlah Kalangan Mengutuknya

0 217

CIANJUR, cianjurekspres.net – Puluhan orang dari berbagai latar belakang agama, suku, dan komunitas, menggelar aksi mengutuk terjadinya peristiwa pengeboman yang menewaskan beberapa orang di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur, yang belum lama ini terjadi.

Kegiatan yang digagas jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Cianjur itu dilakukan dengan membaca puisi, silaturahmi antarumat beragama dan diakhiri dengan berdoa bersama menurut kepercayaan masing-masing, mendoakan keselamatan Indonesia dan ikut melawan aksi terorisme, Minggu (13/5) malam.

“Tujuan kegiatan itu untuk melawan teror dan saling menguatkan sesama umat beragama di Indonesia, khususnya di Cianjur,” terang perwakilan dari Komunitas Kebo Irenk, Rd. S. A. Al Aziz kepada Cianjur Ekspres, kemarin (14/5).

Pria yang akrab disapa Astabrata itu menyebutkan, aksi terorisme bukanlah sebuah ajaran agama, dan itu merupakan tindakan biadab yang masuk pada kejahatan kemanusiaan. “Setiap agama tidak menganjurkan untuk melakukan hal itu (terorisme, red),” ungkapnya.

Kegiatan yang dilakukan spontan tersebut, kata dia, dihadiri juga oleh Paguyuban Peduli Cianjur (PPC), Relawan TIK, dan sejumlah tokoh Cianjur.
“Teroris, apa kamu tidak punya ibu? Apa agama kamu?” tutup Astabrata mengutip sepenggal puisi yang dibacakan pada saat itu oleh Wina Tora dan Tia.

Di samping itu, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Cianjur bersama Kapolres Cianjur AKBP Soliyah Dandim 0608 Cianjur Letkol Czi Kowad Hidayati menggelar diskusi tentang bahaya terorisme di ball room salah satu hotel di Cipanas, kemarin (14/5).

Tamu undangan yang mengikuti diskusi tersebut juga turut dihadiri seluruh kapolsek dan tokoh agama. Perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Cianjur Ahmad Yani mengatakan, diskusi saat yang digelar saat ini merupakan untuk membahas terkait masalah radikalisme, anti-Pancasila, berita-berita hoaks dan terorisme bagaimana caranya untuk mencari solusi yang terbaik khususnya Kabupaten Cianjur.

“Problem yang terjadi di daerah lain jangan sampai terjadi di Kabupaten Cianjur,” terang Ahmad Yani, kemarin.
Dia mengatakan, di acara diskusi ini pihaknya ingin duduk bersama dan melakukan sharing untuk memberikan informasi apa saja yang dibutuhkan oleh stakeholder maupun para pimpinan agama, dan organisasi yang ada di Kabupaten Cianjur agar bisa menjaga tetap kondusif.

“Kami ingin Cianjur ini tetap kondusif,” katanya.
Ahmad Yani mengatakan, terkait aksi teroris yang baru- baru ini terjadi pihaknya merasa prihatin. MUI mengimbau kepada semua umat muslim dan tidak ada satu agama yang mengajarkan tentang kekerasan, kebrutalan, terorisme.

“Perlu diketahui bahwa dalam ajaran islam yang kita tahu bahwa Islam ini adalah rahmatanlilalamin, tentu disitu saling menyayangi, saling mengayomi dan tidak ada ajaran melakukan tindakan-tindakan keras, anarkis dan tindakan- tindakan teror apalagi menakut-nakuti orang,” katanya.

MUI berpesan kepada semua umat agar tetap menjaga kondusifitas khususnya di Cianjur agar senantiasa bisa hidup rukun berdampingan baik yang se-agama maupun yang berbeda agama.
“Hidup rukun itu akan lebih indah dan kita juga harus bisa hidup berdampingan sesama umat beragama,” ucapnya.
Kasat Binmas Polres Cianjur Ahmad Suprijatna mengatakan, acara diskusi ini adalah lebih kepada untuk tatap muka antara semua elemen masyarakat yang telah disiapkan dan membahas diskusi tentang radikalisme dan terorisme yang berkembang di kalangan masyarakat banyak.

“Ini adalah salah satu tugas kepolisian bagaimana kita merumuskan dan bagaimana kita diajak mengerti ke masyarakat, supaya ke depannya masyarakat memahami dan tidak sembarangan informasi yang diangap benar oleh mereka tapi tidak punya dasar,” kata dia.

Wakil Bupati Cianjur Herman Suherman mengimbau seluruh warga Cianjur untuk ikut serta menjaga keamanan dan kenyamanan di wilayahnya masing-masing serta menolak paham radikalisme, terorisme dan hoax.

“Untuk peristiwa kemarin itu sebenarnya pelaku bukan di Cianjur, melainkan melintas ke Cianjur. Tapi penangkapan terduga teroris beberapa waktu lalu, harus menjadi motivasi warga untuk memperkuat kekompakan sebagai kunci untuk memerangi terorisme dan radikalisme,” katanya kepada wartawan, kemarin (14/5).

Warga dan alim ulama harus bersatu untuk memerangi potensi tersebut, melalui Forum Komunikasi Pimpinan Daerah, ungkap dia, dilakukan berbagai cara yang melibatkan kepolisian, TNI, hingga alim ulama.
Selama ini, tambah dia, Cianjur sempat disebut sebagai basis atau tempat persembunyian pelaku terorisme. Sehingga pihaknya menilai perlu diperdalam nilai keagamaan sesuai dengan pedoman Al Quran dan Sunah.

“Itu juga harus dibarengi sosialisasi yang tepat mengenai bahaya paham radikalisme. Kalau berpegang pada aturan agama, metode negatif dapat ditangkal terutama kalangan anak muda,” katanya.
Dia berharap seluruh lapisan warga di Cianjur, lebih waspada tanpa melupakan azas praduga tidka bersalah dan tidak langsung menghakimi gerak-gerik warga baru yang mencurigakan di lingkungan tempat tinggalnya.

“Kami mengutuk keras aksi teror yang dilakukan orang tidak bertanggungawab yang mengatasnamakan agama apapun. Kami akan bergerak bersama untuk mempersempit ruang gerak pelaku teror di Cianjur,” katanya.(tts/mg2/bay/red)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.