Ojek Pangkalan v Ojek Online

Ini Masalah Perut dan Ladang Usaha

0 97

JL KH ABDULLAH BIN NUH – Dua orang pengemudi ojek online di menjadi korban penganiayaan sejumlah oknum ojek pangkalan yang sedang berujuk rasa, meskipun sedang tidak beroperasi.
Kedua orang yang menjadi korban tersebut, telah melakukan visum dan melaporkan peristiwa yang menimpanya ke Mapolres Cianjur guna diproses secara hukum.

Ketua Driver Online Cianjur (DOC), Yanwar, mengatakan, pihaknya tidak akan melakukan pembelasan atas penganiayaan yang dilakukan sejumlah oknum tersebut. “Kembali lagi ke masalah perut, meskipun berbagai penawaran sudah kami berikan agar teman-teman ojeg pangkalan dapat kemudahan menjadi ojek online namun tetap bisa mangkal, namun ini tidak menjadi solusi,” katanya.

Meskipun mendapat penolakan dari pengemudi angkutan dan ojek pangkalan, tutur dia, pihaknya akan tetap beroperasi untuk menafkahi keluarga. Namun mereka berharap tidak ada lagi kekerasan yang menimpa pengemudi.
Sedangkan terkait dibukanya kantor cabang Grab di Cianjur, ungkap dia akan segera dilakukan sesuai dengan informasi dari kantor pusat. Namun pihaknya belum bisa memastikan kapan keputusan berdirinya kantor cabang tersebut.
“Tetap beroperasi dengan prinsip kami bukan ojek online yang anarkis. Kembali lagi ini masalah perut dan ladang usaha,” katanya.

Sedangkan terkait penolakan yang diajukan pengemudi kovensional, tambah dia, pihaknya tidak akan mundur karena sama-sama mencari rejeki. Bahkan ungkap dia, sejak beberapa hari terakhir mereka telah mengumpulkan ribuan tanda-tangan dukungan.

Petisi yang sudah ditanda-tangani warga merupakan bentuk dukungan bagi kami untuk tetap beroperasi karena warga yang memutuskan sebagai penguna jasa.

Di samping itu, seribuan pengemudi angkutan umum (angkum) dan ojek pangkalan menggelar aksi unjuk rasa ke Gedung DPRD Kabupaten Cianjur menuntut agar aplikasi angkutan berbasis online ditutup.

Aksi unjuk rasa angkutan konvensional yang kesekian kalinya itu menuntut pemerintah daerah menutup aplikasi layanan angkutan online yang dinilai merugikan pengendara angkutan konvesional.

Ribuan orang tersebut sempat konvoi ke sejumlah jalan protokol menyisir angkutan dan pangkalan yang masih beroperasi, untuk ikut berunjuk rasa. Bahkan massa sempat melakukan orasi di depan Kantor Bupati Cianjur, sebelum melanjutkan aksi ke gedung Dewan.

Bahkan aksi itu juga membuat ratusan calon penumpang terlantar di sejumlah titik dan terpaksa melanjutkan perjalanan dengan mengunakan truk yang disiapkan Raider 300 dan Polres Cianjur di beberapa perempatan jalan protokol.

Koordinator aksi, Rudi Agan, mengatakan kehadiran angkutan berbasis online dituding telah banyak melakukan pelanggaran. Akibatnya, pengemudi angkutan konvensional seperti angkot dan ojek pangkalan kehilangan pendapatan.
Pihaknya menuntut pemerintah daerah untuk menutup aplikasi angkutan online agar tidak ada lagi pengemudi angkutan resmi yang dirugikan termasuk ojek pangkalan yang selama ini mengandalkan pencarian dari mengojek.

“Sudah banyak pelanggaran yang dilakukan angkutan berbasis online, sehingga kami mendesak segera ditutup dan dilarang beroperasi di Cianjur,” katanya kepada wartawan, belum lama ini.

Selang beberapa saat melakukan orasi di depan kantor wakil rakyat, seratusan orang perwakilan ojek dan angkutan diterima anggota DPRD Komisi III di ruang rapat dewan, untuk menyampaikan aspirasinya.
Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Cianjur, Atep Hermawan, usai menerina perwakilan pengemudi, mengatakan, pihaknya akan merekomendasikan Dinas Perhubungan Cianjur, melakukan penutupan aplikasi angkutan online ke Kementerian Perhubungan.

“Untuk penutupan aplikasi bukan ranah daerah melainkan ranah kementerian. Sehingga kami merekomendasikan penutupan melalui dinas terkait agar disampaikan ke kementrian sesuai tuntutan pengujukrasa,” katanya.
Setelah mendapat surat rekomendasi yang ditanda-tangani bersama dinas, DPRD dan perwakilan pengujukrasa, dibawah pengawalan ketat aparat keamanan massa membubarkan diri dengan tertib.

Di sisi lain, dari aksi mogok jalan oleh sejumlah diver angkutan umum Cianjur-Cipanas mengakibatkan terjadi penumpukan calon penumpang di beberapa titik. Sepeti di persimpangan Hotel Maras, Simpang Sate Sari Asih dan depan Istana Cipanas.

Hal tersebut diungkapkan salah satu calon penumpang Isni, 18. Dirinya sudah 2 jam menunggu angkot tak juga kunjung datang. Ia mengku tidak tahu kalau angkutan umum jurusan Cipanas-Cianjur menggelar aksi mogok jalan.

“Saya malah baru tahu kalau semua sopir angkutan umum Cipanas-Cianjur ini lagi aksi mogok. Saya mau ke Cangklek udah dua jam gak juga datang angkotnya. Dan sepertinya saya harus naik ojek,” ucap Isni saat ditemui di trotoar depan Istana Cipanas.

Senada dikatakan Dedi, 37, warga Desa Gadog merasa kebingungan dengan adanya aksi mogok jalan yang dilakukan para sopir angkutan tersebut. Karena dirinya hendak ke Cianjur terpaksa harus naik ojeg, ia mengaku merasa berat di ongkos karena harus mengeluarkan Rp 25 ribu untuk satu kali jalan saja.

“Mudah-mudahan para sopir angkotnya kembali jalan seperti biasa. Kasian penumpang lainnya banyak yang terlantar,” katanya.

Sementara itu, angkutan umum warna kuning jurusan Cipanas-Loji yang sedang membawa penumpang dihadang sebuah angkutan jurusan Cipanas-Cianjur di depan SMAN Pacet dan salah satu temannya melontarkan kata-kata bahwa penumpang yang ada di dalam angkutan tersebut harus diturunkan.(bay/mg2/red)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.