Meski Berpanghasilan Minim, Tetap Ditekuni

NAMANYA Enung Mulyati (49) pengrajin peti telor asal Kampung Sukajadi RT 04/ RW 05 Desa Sukajadi Kecamatan Karangtengah. Ia merupkan pengrajin peti telor. Pendapatannya dari pekerjaan itu terbilang sangat minim. Meski demikian masih saja ia tekuni, lantaran belum ada pekerjaan lain yang lebih menjanjikan.

Untuk hasil pekerjaannya membuat peti telor sebanyak 10 peti, hanya menghasilkan uang Rp 15 ribu. Jumlah yang tidak sebanding dengan pekerjaan dan tingkat kesulitan yang ia kerjakan.

Bahan yang digunakan untuk pembuatan peti telor tersebut, dari sisa-sisa potongan kayu yang disiapkan oleh tengkulak peti itu sendiri terkecuali paku.

Enung mengatakan, profesi menjadi pengrajin peti telor tersebut kurang lebih sudah 5 tahun berjalan.

Hal tersebut ia lakukan untuk membantu penghasilan suaminya yang memang pas-pasan.

“Bantu-bantu suami pak,” kata Enung sambil memotong kayu untuk peti telor dirumahnya di Kampung Sukajadi, Selasa (8/10).

Enung mengatakan, proses pembuatan peti telor per satu harinya hanya menghasilkan 10 peti. Penghasilan per satu peti yang ia dapat, hanya Rp 1.500,- dengan begitu dari total 10 peti hanya mendapatkan Rp 15 ribu.

Menurutnya, semua bahan untuk pembuatan peti tersebut disipakan si pemesan. Dirinya hanya menyiapkan paku untuk kebutuhan perekat peti telor tersebut.

” Kalau bahan kayu, itu semua sudah disiapkan terkecuali paku,” katanya.

Sementara itu pengrajin peti telor lainnya Agus (35) mengatakan, tak punya pilihan lain dirinya berprofesi sebagai pengrajin peti telor tersebut.

“Tak punya pilihan lain kang, dari pada tidak punya penghasilan kalau kita jalani dengan ikhlas alhamdulillah,” ujarnya.

Menurutnya, kalau yang lainnya bahan disiapkan oleh tengkulak peti telor. Namun dirinya tidak, melainkan belanja sendiri dengan tujuan tidak ada potongan.

“Kalau yang lain, biasanya hanya menyiapkan paku saja. Tapi kalau saya harga normal atau Rp 35 ribu per 10 peti telornya,” pungkasnya.(yis/sri)