Plt Bupati Sambangi Penerima Program BSPS

0 44

CIANJUR – Plt Bupati Cianjur, Herman Suherman menyerahkan bantuan program bantuan untuk rumah tidak layak huni (Rutilahu) kepada Anggi Rahman (39) warga Kampung Cikaret Girang Desa Limbangansari Kecamatan Cianjur yang tinggal berdampingan dengan kandang ayam.

Didampingi Kepala Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Pertanahan, Bagian Umum Setda Cianjur, Camat Cianjur, Kepala Desa Limbangansari, dan sejumlah pejabat lainnya, Herman memberikan satu sak semen sebagai bentuk simbolis bantuan dan dimulainya pembangunan rumah untuk Anggi dan keluarga.

Herman mengatakan, bantuan tersebut bersumber dari Pemerintah Pusat, yakni Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) atau yang lebih dikenal dengan program bedah rumah.

“Hari ini ada tiga titik yang secara simbolis diberikan bantuannya, yaitu dua rumah di Limbangansari Kecamatan Cianjur dan satu rumah di Sukaluyu. Kegiatan ini juga sekaligus meninjau rumah tidak layak huni di Cianjur untuk upaya percepatan pemberian bantuan selanjutnya,” kata dia kepada wartawan di sela kegiatan, Selasa (16/7).

Menurutnya, bantuan tersebut diberikan untuk dikela secara swadaya, sehingga pembangunannya bisa lebih cepat dan anggaran yang ada bisa dioptimalkan.

Kepala Dinas Perkimtan Kabupaten Cianjur, Ahmad Rifai, mengatakan, untuk tahun ini ada 770 warga tidak mampu yang mendapatkan bantuan program BSPS untuk memperbaiki rumahnya yang sudah tidak layak huni. Rencananya Pemkab juga akan menggelontorkan anggaran untuk rutilahu di perubahan anggaran tahun ini.

“Ada juga program yang bersumber dari provinsi, sehingga diharapkan rutilahu di Cianjur bisa cepat teratasi seluruhnya,” kata dia.

Sementara itu, Anggi Rahman (39) pemilik rumah mengaku bahagia mendapatkan bantuan tersebut. Dia bersama istri dan dua anaknya sudah belasan tahun tinggal di rumah bilik dengan kondisi yang memang memprihatinkan, terlebih rumahnya berdampingan dengan kandang ayam.

“Alhamdulillah, keluarga saya bisa segera menempati rumah yang layak. Selama ini saya tidak bisa perbaiki rumah, karena pekerjaan yang hanay buruh tani dan bajak sawah,” kata dia.

Selama 11 tahun, Anggi Rahman (39) bersama Neni Mayrani (istri) dan kedua anaknya harus tinggal di rumah semi permanen yang sekarang kondisinya memprihatinkan. Bahkan rumah tersebut berdampingan dengan kandang ayam.

Rumah yang berlokasi di Kampung Cikaret Girang Desa Limbangansari Kecamatan Cianjur tampak sudah tidak layak untuk ditinggali. Tidak hanya karena bilik bambu yang sudah mulai berlubang dengan tiang kayu yang hampir roboh. Rumah yang luasnya 3×4 meter itu dibagi menjadi tiga ruangan, namun hanya bagian depan rumah yang masih bisa ditempati untuk tidur serta dapur yang berdampingan dengan kandang ayam.

Tempat tidur untuk empat orang penghuni itu hanya terdiri dari sebuah kasur dan tikar yang langsung beralaskan tanah. Tak ayal banyak debu bertebaran di atas tempat tidurnya.

Bau kotoran ternak pun tercium, mengingat beberapa buah kandang ayam memang berada di samping dan di dalam rumah tepatnya di ruang dapur. Sehingga ketika masuk ke tempat masak, langsung dihadapkan dengan kandang ayam.

“Beberapa waktu lalu masih ada alas kayu, tapi sudah lapuk. Jadi langsung digelar tikar tdi atas tanah,” kata Anggi, Selasa (16/7).

Menurutnya, ketika musim hujan anak-anaknya terkadang tidur di neneknya atau di pamannya yang kondisi rumahnya sedikit lebih baik. Pasalnya, atap rumah Anggi sudah bocor sehingga air kerap membasahi karpet ataupun kasur.

Dia mengaku terpaksa harus tinggal di rumah tidak layak huni itu selama lebih kurang sebelas tahun. Penghasilannya sebagai buruh tani yang berpenghasilan kurang dari Rp 50 ribu per hari, hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari termasuk untuk bekal anaknya yang kini duduk di sekolah dasar.

“Mau gimana lagi, daripada mengontrak lebih baik uangnya untuk keperluan sehari-hari, apalagi kan anak sudah mulai sekolah,” katanya.

Dia pun berterima kasih, mendapatkan bantuan rutilahu dari pemerintah, sehingga keluarganya bisa mendapatkan tempat tinggal yang layak. “Kasihan anak-anak kalau terus tinggal di tempat ini, kadang suka batuk. Tapi yang tidak tega itu mencium bau kotoran ayam. Saya berterimakasih kepada pemerintah telah membantu keluarga kami,” kata dia.

Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Pertanahan (Perkimtan) Kabupaten Cianjur menyebutkan jumlah rumah tidak layak huni (Rulitahu) di Cianjur masih di atas 20 ribu unit. Sayangnya, bantuan perbaikan rumah dalam setahun lebih kurang seribu unit saja.

Kepala Dinas Perkimtan Kabupaten Cianjur, Ahmad Rifai, mengatakan, penanganan rutilahu di Cianjur memang memerlukan waktu yang tidak seberntar, mengingat jumlahnya yang cukup banyak.

Di tahun ini saja hanya ada bantuan perbaikan rumah tidak layak huni untuk lebih kurang 1.000 unit, di antaranya dari program BSPS dari pusat sebanyak 770 unit, dan selebihnya dari kabupaten serta pemerintah provinsi.

“Kami terus mengupayakan dari bantuan yang ada bisa dimaksimalkan untuk lebih banyak pembangunan yang dilakukan. Supaya jumlah rutilahu berangsur berkurang, meskipun nyatanya memang butuh proses cukup pajang,” kata dia.

Rifai mengatakan, Pemkab Cianjur rencananya akan menganggarkan pembangunan puluhan rutilahu di perubahan anggaran 2019. Ke depannya pemkab juga akan anggarkan minimal Rp 500 juta untuk rutilahu.

“Satu unit rumah itu anggarannya Rp 15 juta. Dinlai tersebut cukup, lantaran pembangunannya swadaya masyarakat,” kata dia.

Dia menambahkan, bantuan dari pusat dan pemprov jabar bisa lebih banyak di tahun selanjutnya untuk mepercepat penanganan rutilahu.(bay/red)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.