Ada Prilaku Penyimpangan Seksual di Lapas?

CIANJUR, cianjurekspres.net – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas IIB Cianjur bakal melakukan pemeriksaan dan pembinaan terhadap para narapidana untuk mencegah penyimpangan seksual terutama laki-laki seks laki-laki (LSL) di dalam lapas.

Kepala Subseksi Registrasi Bimbingan Kemasyarakatan Lapas Kelas IIB Cianjur, Fani Andika, pihak lapas mencatat ada narapidana yang memang mengalami penyimpangan seksual, dimana salah seorang narapidana atau wargabinaan laki-laki melakukan kegiatan seksual dengan narapidana laki-laki lainnya.

“Temuannya itu dua tahun lalu, kami sudah lakukan tindakan juga dimana narapidana tersebut langsung dipindahkan ke Lapas di Sukabumi,” kata dia kepada Cianjur Ekspres saat dihubungi melalui telepon seluler, kemarin (10/7).

Menurutnya, untuk saat ini narapidana yang mengidap penyimpangan seksual belum terdata lagi. Pasalnya perilaku tersebut dilakukan secara tertutup dan personal, sehingga petugas pun sulit untuk mendeteksinya.
“Kemungkinan ada, karena kan lapas itu benayakan laki-laki, terlebih dengan kondisi yang kelebihan kapasitas. Tapi perlu waktu untuk mengetahuinya, apakah masih ada atau tidak,” kata dia.

Kalapas Cianjur, Gumilar mengatakan, pihaknya akan melakukan upaya pencegahan munculnya penyimpangan seksual di dalam lapas. Di antaranya dengan pembinaan terutama secara keagamaan.

Bahkan dia mengungkapkan saat ini terdapat narapidana yang merupakan waria yang selnya dipisahkan dengan narapidana lainnya. Hal itu dilakukan untuk mencegah terjadinya penyimpangan seksual, sebab meskipun berpenampilan wanita namun anrapidana tersebut tetap saja seorang laki-laki.

“Selain selnya dipisahkan tersendiri, kegiatan dari narapidana yang merupakan pindahan dari Jakarta tersebut dipisahkan kegiatannya. Jadi dia beraktivitas setelah narapaidana lainnya masuk ke dalam selnya. Tentu ini dilakukan untuk mencegah adanya perilaku seks menyimpang, di samping juga kami upayakan pembinaan secara keagamaan melalui kegiatan di masjid,” kata dia.

Di sisi lain, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Cianjur, Hilman, mengatakan, potensi terjadinya penyimpangan seksual di dalam lapas cukup besar. Sebab mereka juga manusia biasa yang memiliki kebutuhan untuk berhubungan seksual, terutama yang sudah menikah.

“Ketika kebutuhan biologisnya muncul tapi yang ada kondisinya laki-laki semua, penyimpangan seks itu bisa terjadi. Mungkin saja mereka yang semula tidak melakukan, karena pernah menjadi korban pelecehan oleh narapidana lain malah nantinya jadi pelaku di dalam lapas tersebut,” kata dia.

Oleh karena itu, pihaknya berharap lapas menyediakan ruangan khusus bagi narapidana untuk menyalurkan kebutuhan biologisnya dengan pasangan yang sah saat waktu penjengukan. “Saya rasa hal itu akan mampu mencegah terjadinya penyimpangan seksual, meskipun saat ini ruangan di lapas pun belum memadai. Tapi perlu ada upaya dan solusi tersebut, mengingat penyimpangan seks akan meningkatkan risiko penyakit, terutama HIV/AIDS,” pungkasnya.

Perlu diketahui, sebelumnya, Kepala Kanwil Kemenkum HAM Jabar, Liberti Sitinjak mengungkapkan adanya perilaku penyimpangan seksual di lembaga pemasyarakatan di Jawa Barat. Daya tampung setiap sel sudah tidak ideal, dinilai berdampaknya ke orientasi seksual napi.

Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Cianjur mencatat saat ini ada 832 pelaku penyimpangan seks yakni laki-laki seks laki-laki (LSL). Bahkan tidak sedikit dari LSL tersebut yang mengidap HIV/AIDS.
Sekretaris KPA Cianjur, Hilman, mengatakan, data di tahun lalu terdapat 120 orang pengidap HIV/AIDS baru, 40 persen di antaranya merupakan LSL. Persentase tersebut paling besar dibandingkan kategori lainnya, seperti Wanita Penjaja Seks (WPS) atau lainnya.

“Jadi beberapa tahun terakhir gay ini jadi yang paling banyak terkena HIV/AIDS. Tapi kalau dari data awal pengidap HIV/AIDS yang tercatat hingga saat ini yakni sekitar 1.100 orang, belum bisa dipastikan berapa persennya yang gay,” kata dia.

Menurutnya, perilaku seks menyimpang tersebut banyak diakibatkan oleh pergaulan. “Biasanya karena bergaul dengan kelompok tertentu, membuat seseorang menjadi pelaku seks menyimpang,” kata dia.

Hilman menambahkan, rentang usia pengidap LSL paling banyak di usia 20-30 tahun, sebanyak 40 persen. Selebihnya ialah di usia 30-40 dan di usia 15-20 tahun.

Untuk mencegah pertumbuhan LSL terutama pada generasi pelajar, KPA akan melakukan sosialisasi terhadap apra guru BK di SMP dan SMA/SMK sederajat. “Dari para guru tersebut nanti sosialisasi ke para pelajar. DIharapkan generasi muda Cianjur tidak menjadi pelaku seks menyimpang,” kata dia.(bay/red)