Sumur Warga Panyaweuyan Positif Tercemar Limbah

DLH Belum Bisa Pastikan Sumber Pencemarannya

0 25

CIANJUR – Kepala Bidang Penanganan Pengendalian Kerusakan dan Pencemaran Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cianjur Deni Junaedi mengatakan, hasil labaratorium air sumur warga di Kampung Panyaweuyan RT 01/01 Desa Ciherang, Kecamatan Pacet dinyatakan positif tercemar limbah minyak.

“Jadi, berdasarkan hasil dari Lab, air sumur warga di Kampung Panyaweuyan ini tercemar. Akan tetapi belum bisa dipastikan tercemarnya dari mana,” terang Deni Junaedi, saat dihubungi Cianjur Ekspres, Selasa (9/7).

Diakuinya, jik amerujuk keberadaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) memang disebrang jalan Kampung Panyaweuyan, namun pihaknya belum bisa memastikan bahwa limbah tersebut berasal dari SPBU.

“Pencemaran tersebut ada dua indikator, yang pertama dari limbah minyak, dan indikasi dari limbah alami yakni Biochemical Oksigen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD),” katanya.

Deni mengatakan, indikasi tersebut merupakan dari hasil uji Lab ada yang dari mikro organisme BOD, COD dan juga penol.

“Kalau dilihat dari hasil pemeriksaan Lab limbah tersebut mendominasi BOD dan COD, sehingga kekurangan oksigen menimbulkan bau pada kadar air tersebut,” ujarnya.

Dikatakan Deni, untuk meminimalisir terjadinya penyakit yang ditimbulkan oleh warga pihaknya sudah mencari solusi agar dilakukan pemeriksaan dan pengobatan dari Dinas Kesehatan. Selain itu pemerintah Desa Ciherang bersama BPBD untuk sementara akan mengeringkan terlebih dahulu air sumur yang terindikasi tercemar.

“Yang pasti kita terus berupaya, bagaimana caranya mencari solusi yang terbaik bagi masyarakat khususnya air sumurnya yang terindikasi tercemar limbah,” katanya.

Sementara itu, salah satu perwakilan dari warga Kampung Panyaweuyan Ludi Burdah Muslim mengatakan, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cianjur dalam menyampaikan hasil uji lab tersebut dinilai tidak mempunyai parameter yang lengkap.

“Sangat disayangkan, DLH tidak mempunyai parameter untuk menyampaikan hasil kajian dari Lab yang telah ia tunjuk,” katanya.

Ludi mengatakan, hasil uji lab yang disampaikan DLH terbilang sangat tidak memuaskan bagi masyarakat karena tidak secara spesifik atau tidak langsung mengatakan bahwa limbah tersebut dihasilkan dari apa?

“Sebetulnya kemarin itu saya minta ke DLH minta penjelasan secara spesifik, tapi parameter itu tidak dimunculkan oleh DLH tersebut,” terang Ludi.

Menurutnya, pemerintah desa melakukan pemeriksaan melalui scupindo dan komunitas sosial yang ada di Kabupaten Cianjur.

“Kalau berdasarkan informasi yang didapat, bahwa air sumur kita ini ada kandungan minyak 1,8 miligram per liternya,” kata Ludi.

Artinya lanjut Ludi, warga ingin ada kepastian hukum atas terjadinya air sumur yang tercemar limbah tersebut. “Jadi, kalau memang tercemar, ya darimana tanah tersebut tercemarnya. Jadi jangan sampai mengambang seperti ini,” tandasnya.(yis/sri)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.